JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memprediksi puncak arus balik Lebaran gelombang kedua yang diperkirakan terjadi pada 30 April dan 1 Mei 2023 tidak akan sepadat pada puncak arus balik pertama yang terjadi pada 24 dan 25 April 2023 lalu.
Muhadjir mengungkapkan arus balik kendaraan selama masa lebaran di ruas tol Trans Jawa, khususnya yang melalui Tol Cikampek menuju Jabodetabek relatif stabil dan tidak terjadi lonjakan parah. Dia memaparkan, sejauh ini jumlah kendaraan yang menuju Jabodetabek selama masa arus balik relatif stabil dan merata yaitu berkisar 100 ribu kendaraan per harinya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, berdasarkan data Korlantas Polri dan Jasa Marga, sampai saat ini arus balik kendaraan menuju Jabodetabek tertinggi sudah terjadi pada H+2 lebaran atau pada tanggal 25 April, yaitu sebanyak 159.585 kendaraan.
Menurut Muhadjir lancarnya arus kendaraan pada masa arus balik lebaran adalah berkat berbagai skema kebijakan yang telah dilakukan pemerintah, seperti anjuran Pemerintah, pemberian diskon tol, pemberlakuan skema one way, contra flow, dan rekayasa lalu lintas lainnya.
“Alhamdulillah dengan berbagai macam kebijakan yang kita buat maka kecenderungannya memang arus balik sangat landai. Artinya dari semua hari diisi dengan volume kendaraan yang relatif rata,” ungkap Muhadjir dikutip dalam keterangan resminya, Minggu (30/4/2023).
Muhadjir mengatakan puncak arus balik gelombang kedua pada 30 April tidak akan sebanyak pada puncak arus balik pertama pada H+2 lebaran. Hal itu dikarenakan adanya tambahan hari libur pada Senin tanggal 1 Mei yang merupakan tanggal merah Hari Buruh yang kemungkinan juga akan dimanfaatkan masyarakat untuk balik lebaran.
“Puncak arus balik ke 2 pada H+7 (30 April) dipastikan tidak akan melampaui puncak pada H+2. Jadi kita Perkiraan hanya sekitar 140 ribu. Dengan begitu maka ini sesuai dengan rencana kita,” tuturnya.
Muhadjir juga menyatakan, perkembangan arus balik kendaraan ke Jabodetabek sejauh ini sudah lebih dari 67 persen dan tinggal sekitar 33 persen yang belum kembali ke Jabodetabek. Sementara, selama masa arus balik gelombang kedua akan tetap diberlakukan rekayasa lalu lintas one way dan contra flow di lintas Tol Trans Jawa. Namun demikian, menurutnya, pemberlakuan tergantung situasi dan kondisi yang ada di lapangan.
“Sangat mungkin ada perubahan kalau tidak sepadat yang kita perkirakan,” ucapnya.
(Khafid Mardiyansyah)