BRUSSELS – Senjata 155 milimeter (mm) dipilih hampir sebagian besar pasukan militer yang bernaung di bawah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Senjata ini dianggap menjadi senjata multi guna. Pilihan senjata ini sangat berbeda dengan Rusia dan negara-negara bekas blok Uni-Soviet yang cenderung memilih senjata 152 mm.
Saat ini, kedua jenis senjata itu dapat ditemukan di sebagian besar konflik yang sedang terjadi di berbagai negara. Menurut laman Geneva International Centre for Humanitarian Demining (GICHD), kedua senjata ini memiliki kemampuan yang hampir sama. Yakni mampu menembakkan proyektil sekitar 40 kg hingga jarak 17-40 km.
Meriam kaliber 152 mm dan 155 mm sering dianggap sebagai artileri berat. Negara-negara bekas Pakta Warsawa memilih senjata untuk kaliber 152 mm yang dikembangkan di Rusia. Sementara anggota NATO dan pasukan barat memilih untuk mengadopsi kaliber 155 mm, yang awalnya dikembangkan di Prancis (REF).
Kaliber artileri standar NATO secara umum adalah 155 mm, didefinisikan dalam AOP-29 bagian 1 dengan mengacu pada STANAG 4425.
Kaliber 155 mm ini berasal dari Prancis usai kalah dalam Perang Prancis-Prusia tahun 1870–1871. Kemudian penggunaan kaliber 155 mm ditetapkan pada 21 April 1874. Biasanya artileri 155 mm digunakan dalam senjata lapangan dan howitzer (meriam besar). Howitzer 155 mm standar di gudang senjata AS memiliki jangkauan maksimum 14 mil (22.5 km), dan proyektil 155 mm yang dibantu roket meningkatkan jangkauan maksimum hingga hampir 18 mil (25,7 km).
Penggunaan kaliber 155 mm menyebabkan keusangan artileri dengan kaliber yang lebih besar seperti 175 mm dan 203 mm. Meskipun beberapa pasukan mempertahankan senjata 105 mm untuk portabilitasnya agar mudah dipindahkan.
Dikutip Sindonews, istilah senjata artileri digunakan untuk merujuk secara khusus pada senjata self-propelled, towed, dan emplaced (yaitu bukan man-portable) dengan kaliber lebih besar dari 57 mm yang dirancang untuk tembakan tidak langsung dan mampu mengenai target.
Senjata artileri ini dirancang untuk memberikan dukungan tembakan untuk pasukan lapis baja dan infanteri dengan menembakkan amunisi pada jarak yang lebih jauh daripada senjata kecil dan senjata ringan.
(Susi Susanti)