WNI Korban TPPO di Myanmar Diimingi Gaji Puluhan Juta Per Bulan

Puteranegara Batubara, Jurnalis
Selasa 16 Mei 2023 19:38 WIB
Bareskrim rilis kasus TPPO WNI di Myanmar. (Puteranegara)
Share :

JAKARTA - Polri menyatakan, WNI korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar diiming-imingi kerja di Thailand dengan gaji puluhan juta per bulan.

Dir Tipidum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro mengungkapkan, korban awalnya diimingi bekerja di Thailand. Tawaran tersebut disampaikan pelaku melalui media sosial.

"Korban direkrut pelaku dengan tawaran ke negara Thailand melalui kerabat, teman, ataupun kenalan kemudian korban," ujar Djuhandani dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (16/5/2023).

Ia mengatakan, korban dijanjikan ditempatkan sebagai staf pemasaran dengan upah Rp12 juta hingga Rp15 juta.

"Kemudian tawaran pekerjaan, para korban dijanjikan sebagai marketing operator online dengan gaji antara Rp12 juta sampai Rp15 juta. Ada komisi apabila mencapai target. Bekerja selama 12 jam per hari dan 6 bulan sekali bisa cuti dan kembali ke Indonesia," ujar Djuhandhani.

Namun kenyataannya, ia menjelaskan, para korban ternyata dipekerjakan di perusahaan bodong milik warga negara China.

"Korban dipekerjakan diperusahaan online scam milik warga negara China kemudian ditempatkan di salah satu tempat tertutup dan dijaga oleh orang-orang bersenjata," ucap Djuhandani.

Djuhandani menuturkan, hal tersebut diperparah dengan temuan bahwa jika para pekerja bekerja tidak sesuai target maka akan menerima sejumlah kekerasan.

"Manakala para korban tidak mencapai target yang ditargetkan perusahaan ini mereka akan diberikan sanksi berupa potongan gaji, termasuk tindakan fisik dan kekerasan fisik," tutur Djuhandhani.

Dit Tipidum Bareskrim Polri sejauh ini telah menetapkan dua orang tersangka dalam perkara TPPO di Myanmar. Mereka adalah Anita Setia Dewi dan Andri Satria Nugraha.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya