JAKARTA – Mantan Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua, Pendeta Benny Giay, menawarkan diri untuk menjadi mediator dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) teroris, untuk membebaskan pilot Susi Air, Philip Max Mehrtens, yang telah disandera hampir tiga bulan.
Pendeta Benny Giay mengatakan, masyarakat yang tinggal di sejumlah distrik di Kabupaten Nduga telah diungsikan sejak TNI-Polri melancarkan operasi keamanan pasca penculikan pilot Susi Air oleh KKB pimpinan Egianus Kogoya.
Mereka yang diungsikan itu, sambungnya, hidup dalam ketidakpastian tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan makanan.
"Keadaan di sana sangat memprihatinkan. Sehingga kami pikir ada baiknya ada pihak ketiga yang memediasi," ujar Pendeta Benny Giay dilansir BBC Indonesia, Rabu (17/5/2023).
Pendeta Benny Giay mengatakan, keyakinan bisa memediasi kedua pihak ini datang dari pengalaman tahun 2001 lalu.
Dikatakannya, Kapolda Papua saat itu Made Mangku Pastika, katanya, bisa diajak komunikasi dengan gereja dan mengikuti arahan mereka untuk menarik pasukannya dari Puncak Jaya.
Tujuan penarikan pasukan, untuk mengurangi ketegangan dan tensi kekerasan sehingga membuka ruang dialog.
Hingga akhirnya, TPNPB-OPM bersedia membebaskan dua sandera asal Belgia yang ditawan di Ilaga, Kabupaten Puncak Jaya pada 1 Agustus 2001.
Untuk upaya pembebasan pilot Susi Air, Pendeta Benny Giay menawarkan cara yang sama, yaitu menarik pasukan dan menghentikan operasi militer dari Kabupaten Nduga.
"Kalau pasukan terlalu banyak akan mengganggu masyakat sipil, OPM juga akan semakin keras. Gereja juga dianggap mendukung TNI-Polri. Itu pengalaman kami.Kami sampaikan kepada Kapolda, ini pekerjaan yang tidak gampang,"terangnya.
Pendeta Benny Giay belum bisa memastikan kapan proses negosiasi akan dilangsungkan. Sebab para perwakilan gereja dan uskup harus rapat terlebih dahulu untuk menyusun langkah di lapangan.
Dia juga sedang menunggu keputusan TNI-Polri apakah bersedia untuk mengikuti syarat yang ditawarkan pihak gereja.
"Daerah itu harus bersih dulu kalau mau dapat komunikasi dengan Egianus Kogoya. Tak ada tentara baru bisa negosiasi di situ. Kalau pasukan masih kuasai daerah, saya belum yakin bisa nego,"pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )