TUBAN, menjadi salah satu wilayah yang memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Majapahit. Tuban menjadi salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam perdagangan dan pelayaran.
Musafir Portugis Tome Pires mengisahkan Tuban menjadi tempat kedudukan raja. Meski secara perdagangan dan pelayaran dikisahkan Tome Pires, Tuban tidak berperan seperti di Gresik.
Tetapi konon Tuban memiliki keraton yang mewah, begitu pun bangunan kotanya, meskipun tidak besar sekali, mempunyai pertahanan yang tangguh. Hal ini juga tercantum dalam "Babad Tanah Jawi" dari Soedjipto Abimanyu.
Menariknya meski keluarga raja sudah mulai memeluk islam pada pertengahan abad ke-15. Konon Tuban mengadakan hubungan baik dengan Maharaja Majapahit di pedalaman. Tapi sebagian penduduk Tuban pada zaman Tome Pires masih belum memeluk agama islam.
Menurut musafir Portugis itu, Raja Tuban pada waktu itu disebut Pate Vira. la bukan seorang Islam yang taat, meskipun kakeknya sudah masuk Islam. Dari kata Vira, dikenal kata Wira, yang sering menjadi bagian dari nama Jawa.
Tetapi, dapat juga Vira dihubungkan dengan Wila-Tikta. Menurut tambo-tambo Jawa Tengah dan Jawa Timur, Raja Tuban yang memerintah sekitar tahun 1500 M itu memakai gelar Aria Wila-Tikta. Cerita sejarah lokal Tuban dibukukan menjadi Babad Tuban, suatu naskah yang terutama hanya memuat urutan nama para penguasa kota tersebut, tetapi sayang tanpa memuat tahun-tahun kejadian.
Menurut Babad Tuban, Aria Wila-Tikta itu anak dan pengganti Arya Teja, yaitu seorang ulama keturunan Arab yang berhasil meyakinkan Raja Tuban, Arya Dikara, untuk masuk Islam. Kemudian, ia mendapat putri Arya Dikara sebagai istri. Nama Arya Teja dalam bahasa Arab adalah Abdurrahman.