CEO CEN(AI)ANG sekaligus praktisi AI, Brilliant Yotenega, mengungkapkan cepatnya pemanfaatan AI di berbagai bidang. Ega, panggilan akrabnya, mencontohkan viralnya perangkat lunak ChatGPT, yang sejak dirilis November 2022 hanya membutuhkan waktu lima hari untuk mencapai 1 juta user.
Ega, yang memprakarsai serta memimpin komunitas praktisi AI bernama Ngap(AI)in dan grup kreatif berbasis AI, Cen(AI)ang, menjelaskan, AI telah mengubah cara manusia hidup dan bekerja.
“AI dapat memainkan multifungsi, mulai sebagai asisten virtual, otomatisasi industri dan robotika, pencarian daring dan rekomendasi produk, kendaraan otonom (Tesla), pengelolaan natural language dan terjemahan (ChatGPT), pengenalan wajah dan deteksi emosi, hingga perawatan kesehatan serta diagnosis medik,” ujar Ega.
Di sisi lain, penggunaan AI juga perlu memunculkan diskursus aspek etika, seperti penggunaan gambar/video yang memanipulasi emosi, tidak menghormati preferensi dan keinginan donor, pelanggaran privasi serta penggunaan data donor tanpa izin, serta masalah transparansi dan akuntabilitas. Semua itu, kata Ega, bermuara pada keharusan adanya pengawasan dan pengendalian dalam pemanfaatan AI.
Dalam pandangan Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat, setidaknya empat manfaat AI menurut pengalaman mereka, yakni personalisasi dan kecocokan donor; model prediksi donor dan alur penatalayanan donatur yang terotomatisasi; philanthropy advising; serta kampanye penggalangan dana secara daring.
Mereka, misalnya, menggunakan aplikasi CDP (Customer Data Platform) – ZAMS 2.0 untuk rekomendasi dan segmentasi donatur yang jumlahnya mencapai 600 ribu orang.
“Rumah Zakat juga memiliki fundraising information system yang melibatkan AI, yang amat membantu dalam mempercepat penyajian data serta laporan harian,” jelas Irvan.