The Death Match, Bentuk Perlawanan Ukraina dari Kekejaman Tentara Nazi

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis
Sabtu 10 Juni 2023 05:00 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa/Okezone)
Share :

JAKARTA - Berbagai perlakuan kasar, intimidasi, hingga ancaman pembunuhan diterima para punggawa FC Start agar timnya mengalah dari Flakelf.

Flakelf merupakan kesebelasan dari Jerman yang tengah menjajah Kyiv, Ukraina, yang merupakan tim asal FC Start.

Bagi FC Start kemenangan tetap menjadi harga mati demi harga diri terhadap penjajahan tentara Nazi.

Selama pertandingan Flakelf berada di atas angin karena wasit berpihak pada mereka. Kesebelasan itu tak lelahnya melakukan beragam pelanggaran berat, mulai dari tekel dari belakang, menarik baju, melanggar pemain yang tak memegang bola, hingga menendang kepala dari kiper FC Start.

Meski demikian, gol demi gol tetap mengalir ke gawang Flakelf dan FC Start, memenangkan leg kedua dengan skor 5-3.

Seperti ancaman yang dilontarkan sebelum laga, kematian pun tak lama menjemput para pemain FC Start. Ada yang lebih dulu disiksa, tapi ada juga yang langsung menghadap algojo regu tembak.

Kisah ini bisa tetap mengudara, berkat tiga pemain FC Start yang lolos dan bertahan hidup. Sejarah mengenal peristiwa ini sebagai The Death Match.

Sejarah FC Start

FC Start adalah sebuah klub non-resmi yang berdiri di masa perang dunia kedua, tepatnya di Ukraina. FC Start berisikan para mantan pemain Dynamo Kiev dan Lokomotiv Kiev, yang sempat terbebas dari kamp tawanan perang Nazi Jerman, di bawah wewenang SS (Schutzstaffel – paramiliter Jerman).

Saat Nazi Jerman mulai menginvasi Uni Soviet, Ukraina ikut jatuh ke tangan agresor. Sebab, Ukraina di kala itu masih menjadi salah satu negara satelit Uni Soviet. Saat pecahnya perang, para pesepakbola di Ukraina terpaksa turut berperang di bawah panji tentara merah. Tapi saat keadaan Uni Soviet mengalami kemunduran hingga ke Ukraina, banyak para tentara merah harus menyerah dan ditawan di kamp Darnitsa.

Banyak tentara dari kamp tawanan Darnitsa dibebaskan Nazi Jerman. Terutama yang asli Ukraina. Dibebaskan di sini bukan berarti bebas lepas, tapi hanya punya sedikit kebebasan akan hidup masing-masing dan bebas dari kematian karena dikirim ke perkampungan pekerja di Kiev. Nah, banyak dari yang dibebaskan ini, merupakan mantan pesepakbola.

Pencetus lahirnya FC Start adalah Mykola Trusevych, mantan kiper Dynamo Kiev. Trusevych yang menjadi tukang sapu di suatu pabrik roti, mengajukan gagasan pendirian sebuah tim dengan bantuan Iosif Kordik, salah satu fans berat Dynamo yang juga sang empunya pabrik roti itu. Di musim semi 1942, dimulailah pencarian Trusevych untuk mengisi skuad FC Start.

Hingga empat pekan kemudian, terkumpul-lah 10 pemain lain, masing-masing tujuh dari eks Dynamo (Mikhail Svyridovskiy, Mykola Korotkykh, Oleksiy Klimenko, Fedir Tyutchev, Mikhail Putistin, Ivan Kuzmenko, Makar Goncharenko) dan tiga dari eks Lokomotiv (Vladimir Balakin, Vasil Sukharev, Mikhail Melnyk).

Klub sudah berdiri dan komposisi tim sudah dianggap lengkap, tinggal koneksi mencari lawan. Lewat seorang mantan pesepakbola dan instruktur olahraga Ukraina, Georgi Shvetsov, FC Start dipertemukan dengan lawan-lawan yang sebetulnya merupakan kolaborator militer Nazi Jerman, seperti grup legion Rumania dan Hungaria.

Enam laga yang dijalani FC Start sejak 21 Juni 1942, tak satu pun berbuah hasil minor. Tapi hidup mereka kian mendekati ajal, saat akan dua kali bertanding melawan Flakelf, tim yang berisikan talenta-talenta sepakbola dari Luftwaffe – angkatan udara Nazi Jerman.

Laga melawan Flakelf yang digelar di Zenit Stadium ini, disetujui pihak SS untuk meredam para partisan pemberontak dan juga punya tujuan agar bisa menormalisasi kota Kiev. Seisi stadion pun diperbolehkan dipadati para penduduk sipil, demi pencitraan Nazi Jerman. Di partai leg pertama, FC Start digdaya dan menang 5-1. Para punggawan FC Start masih lolos dari maut. Tapi di leg kedua, ancaman dan intimidasi muncul supaya mereka mau mengalah

Sebelum pertandingan, datanglah seorang perwira SS yang ditemani dua penjaga. Perwira SS itu ternyata bertindak sebagai wasit dan memerintahkan memberi hormat kepada tim lawan, dengan salam hormat ciri khas Nazi. Laga keras pun terjadi di babak pertama, meski begitu, FC Start unggul 3-1.

Tapi di masa rehat, dua perwira SS masuk ke kamar ganti. Kejadian itu sempat terliput media Jerman saat itu, Der Spiegel, yang mengisahkan,: “Kalian tidak boleh menang. Saya meminta kalian semua memikirkan konsekuensinya,” tutur salah seorang perwira SS yang hingga kini masih belum terungkap identirasnya.

Tapi demi harga diri sendiri dan negerinya, imbauan tersebut tak diindahkan. FC Start menang 5-3 dan akibat yang berujung pada hilangnya nyawa mereka segera tiba. Para pemain FC Start pun langsung diciduk Gestapo (polisi rahasia Nazi) dan Gendarmarie (Polisi Militer Nazi), beberapa hari setelah laga.

Mereka yang diketahui mantan anggota partai komunis, harus menjalani fase penyiksaan, sementara yang lain langsung dihadapkan timah panas tim regu tembak.

Cerita nyata ini pernah beberapa kali termuat dan menjadi inspirasi para sineas Eropa, maupun Amerika Serikat. Film pertama yang me-reka ulang kejadian ini muncul dari produksi perfilman Hungaria; Két félidõ a pokolban, ‘The Death Match’ produksi Uni Soviet (keduanya di tahun 1961).

Terakhir yang paling fenomenal, adalah film garapan Hollywood di tahun 1981. Film 'Escape to Victory' yang terbit di tahun 1981 bahkan berisikan para aktor action Hollywood (Michael Caine dan Sylvester Stallone) dan para legenda sepakbola (Pelé, Bobby Moore, Osvaldo Ardiles, Co Prins, Mike Summerbee, Laurie Sivell, Hallvar Thoresen, Soren Linstedt, Kazimierz Deyna, Paul van Himst, Werner Roth, Rusell Osman, Kevin O’Callaghan, Robin Turner, Kevin Beattie dan Paul Cooper).

Selang perang dunia berakhir, di tahun 1971 di kota Kiev –, didirikanlah tugu monumen karya Ivan Horovyi, sebagai peringatan untuk para pilar FC Start yang tak selamat dan meregang nyawa. Di tugu tersebut terdapat kata-kata dari Stepan Olynyk (negarawan Ukraina): “Demi masa depan kami yang indah, mereka gugur dalam perjuangan. Sepanjang sejarah, kejayaan kalian takkan pudar. Kalian-lah atlet dan pahlawan kebanggaan kami,”.

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya