Ciri khas Mbah Khair adalah selalu mengenakan kampret dan celana pangsi warna hitam dengan ikat kepala merah. Konon, Mbah Khair ini berasal dari Kampung Badui dengan sanad ilmu silatnya berasal dari seorang panglima perang zaman Kerajaan Sunda bernama Abah Bugis.
2. Ki Ngabei Ageng Soerowirdjo (Eyang Suro)
Ki Ngabei Ageng Soerowirdjo atau Eyang Suro merupakan pendiri aliran pencak silat Setia Hati. Pada saat kecil, Eyang Suro yang berasal dari Surabaya pertama kali belajar pencak silat saat tengah mengaji di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang.
Saat dirinya pindah ke Bandung, dirinya berkesempatan untuk menambah kemahirannya dalam pencak silat. Kemudian saat kembali ke Surabaya, Eyang Suro bekerja sebagai polisi dan kemudian mendirikan perkumpulan Sedulur Tunggal Kecer dengan nama aliran silatnya yakni Joyo Gendelo.
Beberapa tahun berlalu, nama tersebut kemudian berganti menjadi Persaudaraan Setia Hati yang berpusat di Madiun. Dan kemudian Eyang Suro bersama anggotanya turut serta bertarung pada masa penjajahan.
3. Gus Maksum
KH. Abdullah Maksum Jauhari atau yang dikenal dengan nama Gus Maksum merupakan putra dari seorang kiai di Pondok Pesantren Lirboyo, Abdullah Djauhari dan Nyai Hj. Aisyah.