Menurut Yerry, budaya masyarakat Bali yang ramah dan toleran dengan wisatawan mancanegara tidak boleh menjadi alasan bagi wisatawan asing untuk berbuat sesuka hati mereka. Tetap harus ada batasan dan standar norma kesopanan dalam berperilaku, khususnya di area publik.
"Penataan pariwisata Bali, khususnya yang menyangkut tata krama dan perilaku wisatawan mancanegara perlu dilakukan dengan bijak dan hati-hati. Pencegahan lebih baik daripada penindakan. Karena walau bagaimana pun, kita membutuhkan wisatawan mancanegara untuk pemasukan devisa," papar Yerry.
Itu sebabnya, lanjut Yerry, aturan berperilaku mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan (The Do's and Don'ts) perlu disosialisasikan dari bandara sampai ke hotel dan penginapan. Ini merupakan tindakan pencegahan dini agar para wisatawan mancanegara itu berperilaku sesuai aturan di Bali.
(Khafid Mardiyansyah)