“Dan anak-anak inilah yang tidak atau hampir tidak kita akses sama sekali, yang menderita kerugian pendidikan paling besar,” katanya.
Yulia Dolzhanska, yang mengajar bahasa dan sastra Ukraina di sebuah sekolah menengah di Kharkiv, mengatakan jelas bahwa pembelajaran online tidak dapat menggantikan interaksi tatap muka. Namun bagi banyak orang di Ukraina, saat ini tidak ada pilihan lain.
Sekolah Dolzhanska memutuskan untuk menawarkan kelas online dan kesempatan bagi anak-anak untuk datang ke pertemuan. “Hal yang sulit di sini adalah jika ada peringatan serangan udara atau, amit-amit, ledakan, bagaimana reaksi anak-anak terhadapnya? Apakah kita pergi ke shelter bersama anak-anak yang sedang offline? Bagaimana kita menenangkan dan mendukung anak-anak yang sedang online?,” ungkapnya.
Gorbachov mengatakan bahwa sejak awal konflik skala penuh tahun lalu, Ukraina telah banyak berinvestasi dalam membuat sekolah lebih aman, membangun tempat berlindung dan fokus pada peningkatan pembelajaran jarak jauh. Menurut pemerintah, 84% sekolah kini dilengkapi dengan bunker, yang merupakan persyaratan bagi lembaga pendidikan mana pun yang ingin menerima siswanya kembali.
Bagi Dmytro Ukrainsky, kembali secara langsung masih merupakan mimpi yang jauh. Dia mengatakan kepada CNN bahwa dia terakhir kali bertemu sebagian besar teman sekelasnya sebelum invasi Rusia pada Februari 2022. Hanya tiga teman sekolahnya yang tersisa di Zaporizhzhia, meskipun dia masih tidak bisa sering bertemu mereka karena terlalu berbahaya untuk pergi ke luar dan banyak taman kota dan banyak lagi taman bermain telah hancur total.
“Kedengarannya aneh, tapi saya sangat rindu sekolah,” ujarnya.
“Jika besok mereka mengatakan bahwa perang telah usai dan saya dapat pergi ke sekolah, saya akan begadang semalaman dan lari ke sana. Saya merindukan kafetaria kami, terutama roti keping coklat kami. Itu paling enak,” ungkapnya.
(Susi Susanti)