UKRAINA - Kateryna Pylypenko menyiapkan dua tas ransel untuk hari pertama putra bungsunya masuk sekolah pada Jumat (1/9/2023). Satu berisi perlengkapan sekolah, dan satu lagi untuk berlindung di tempat perlindungan bom. Ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah saat perang Ukraina masih berlangsung.
“Tasnya (untuk tempat berteduh) akan disimpan di ruang kelas. Kami diberitahu bahwa itu harus berisi air, mainan… dan sesuatu untuk dimakan sementara mereka menunggu di tempat penampungan hingga alarm serangan udara berakhir,” terangnya kepada CNN.
Menurut kementerian pendidikan negara tersebut, ketika serangan brutal dan tidak beralasan Rusia terhadap Ukraina memasuki tahun ajaran ketiga, hampir 4 juta anak kembali bersekolah di sekolah dasar dan menengah pada Jumat (1/9/2023).
Menurut UNICEF, hanya sekitar sepertiga anak-anak yang terdaftar di Ukraina yang akan mengikuti kelas tatap muka tahun ini, dan sisanya belajar setidaknya sebagian secara online.
Kedua putra Pylypenko, yang berusia 6 dan 14 tahun, akan kembali secara langsung. Sekolah mereka di Kyiv memutuskan untuk menerima kembali murid-muridnya setelah mensurvei orang tua beberapa minggu lalu.
Kelas tatap muka mempunyai beberapa risiko. Yakni ibu kota Ukraina telah beberapa kali diserang oleh rudal dan drone Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Namun Pylypenko mengatakan dia ingin putra-putranya mendapatkan pengalaman sekolah yang senormal mungkin, meskipun ayah mereka, suaminya, saat ini sedang pergi berperang.