Kisah Menegangkan Jenderal TNI Berpakaian Preman Bawa Uang ke Timor Timur, Siapkan Pistol untuk Lawan Fretilin

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Jum'at 08 September 2023 10:11 WIB
Letjen TNI (Purn) Agus Rohman saat Masih Aktif/ist
Share :

JAKARTA – Mantan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan) Letjen TNI (Purn) Agus Rohman mempunyai kisah menarik saat masih aktif di dunia militer.

Arbituren Akademi Militer (Akmil) tahun 1988 ini diketahui juga pernah menduduki posisi strategis, diantaranya menjadi Ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Pangdam XVI/Pattimura dan puncak kariernya menjabat sebagai Pangkogabwilhan III.

Melansir buku biografinya berjudul "Panglima dari Bandung Selatan, 88 Praktik Kepemimpinan Ala Mayjen TNI H Agus Rohman, S.I.P., M.I.P", Jumat (8/9/2023), Agus Rohman yang saat itu masih berpangkat Lettu ditugaskan di daerah operasi Timor Timur yang sekarang menjadi Timor Leste pada tahun 1994.

Saat itu dia menjabat sebagai Kasi-4/Log Yonif Linud 330/Tri Dharma Kostrad. Tugasnya memang bukan di garis depan namun di bagian logistik.

Agus menyiapkan dan mendistribusikan segala kebutuhan logistik tentara di garis depan. Tentunya, hal itu merupakan tantangan bagi dirinya, seorang perwira muda.

"Kamu harus antar uang ini ke Lospalos," perintah Komandan Batalyon Infanteri L 330/TD kepada Lettu Inf Agus Rohman melalui radio racal.

Lospalos adalah kota di Timor Leste. Letaknya 248 km di timur Dili, ibu kota negara yang kini telah berpisah dengan Indonesia tersebut.

"Siap!" tegas Agus Rohman. Lantas, suasana menjadi hening.

“Izin bertanya, Komandan. Kenapa tidak kemarin saja uang ini diberikan?" ujar Agung.

Menurutnya, ada pasukan yang datang menggunakan dua mobil. Dia berpikir jika uang itu diberikan kepada pasukan itu, tentu itu akan lebih baik dan aman.

"Kita tidak bisa mengulang apa yang terjadi kemarin, bukan? Uang itu harus kamu antar ke Lospalos hari ini juga," tegas Komandan Batalyon.

"Kamu berangkat ke Lospalos berpakaian preman saja menggunakan bus umum. Tidak perlu membawa senjata," sambung komandannya.

"Siap, Komandan! Tapi izinkan saya membawa pistol," ujar Agus.

Meski dilarang membawa senjata, bukan tanpa alasan Agus meminta izin membawa pistol dalam perjalanannya. Karena dia bersiap jika dihadang di perjalanan oleh kelompok Fretilin, dengan memegang senjata dia bisa memberikan perlawanan.

Namun, Komandan Batalyon tidak mengizinkan Agus membawa pistol. Komandan Batalyon khawatir, apabila ada penghadangan, pistol itu dapat direbut musuh.

Saat Komandan Batalyon menyampaikan hal itu, Agus sempat berpikir. "Apakah harga nyawa saya lebih murah dari harga pistol?"

Agus kemudian merenung dan akhirnya tetap memutuskan bahwa ia harus membawa pistol sebagai langkah antisipasi. Ia tahu bahwa perjalanan ke Lospalos adalah perjalanan yang berbahaya.

Agus menempuh waktu tujuh jam perjalanan sambil membawa uang tersebut. Bisa saja, di tengah perjalanan ada kelompok separatis yang melakukan penyisiran dan sweeping terhadap anggota TNI.

Jika itu terjadi, Lettu Agus berpikir akan melawan dengan pistolnya. Namun, pikirannya itu ditolak oleh Komandan Batalyon. Agus tetap bersikukuh dengan pikirannya. Ia harus membawa pistol.

Sambungan radio racal pun terputus. Agus Rohman masih berpikir, dirinya butuh keyakinan bahwa ia harus membawa pistol.

"Izin, Pasil Sebaiknya Pasi membawa pistol, bahaya," cetus seorang tayanrad (operator radio).

Saran dari operator radio itu memperkuat keyakinannya. Lettu Inf Agus Rohman pun membawa pistol dan berangkat dengan menggunakan bus dari Dili ke Lospalos.

Ia memilih duduk di kursi paling belakang sehingga mudah mengawasi kemungkinan bahaya, misalnya sweeping. Pistolnya telah ia siapkan di balik jaketnya. Siap ditembakkan jika terjebak dalam kondisi yang mendesak.

Dalam perjalanan, Agus terus berzikir. Mantan Asops Danpaspampres ini merasa bahwa pintu kematian telah terbuka, meski pada dasarnya, setiap saat pintu kematian selalu terbuka. Namun pada saat itu, kematian semakin jelas.

Agus mengucap nama Tuhan, Allah Ta’ala, seolah itulah saat-saat terakhir ia mengucapkan nama itu. Hidup dan mati telah diatur, apakah ini saatnya saya mati, pikirnya.

Bus berhenti. Baru sampai setengah perjalanan, tepatnya di Kota Bakau la pun turun di Kota Bakau, tepatnya di depan Pos Komando Sektor Timur yang dipimpin oleh Kolonel Inf Ryamizard Ryacudu yang , sebagai Komandan Sektor (Dansektor) ketika itu. Diketahui, Ryamizard Ryacudu merupakan mantan Menteri Pertahanan di Kabinet Jokowi-JK.

Di sana, ia pun sekaligus menyerahkan surat-surat sebagai laporan kepada Dansektor. Bertemu dengan Dansektor, Kolonel Ryamizard Ryacudu lalu mencecar tujuan perjalanan Agus Rohman.

"Kau mau ke mana?" tanya Dansektor.

"Siap! Saya mau ke Lospalos!" jawab Lettu Agus.

"Untuk apa kau ke sana?" tanya Ryamizard.

"Siap! Saya diperintahkan Danyon untuk mengantarkan uang ke Kotis (Komando Taktis) Lospalos," jawabnya dengan tegas.

"Kenapa pergi sendirian? Kamu tahu kemarin ada penghadangan oleh gerombolan di daerah Manatutu?" tanya Ryamizard.

Lettu Inf Agus Rohman tidak diizinkan pergi ke Lospalos. Sementara itu, Kolonel Inf Ryamizard Ryacudu memanggil Komandan Batalyon ke Kota Bakau. Kemudian, Dansektor menanyakan kepada Komandan Batalyon perihal perjalanan Lettu Inf Agus Rohman.

"Mengapa dia ditugaskan berangkat sendiri naik bus tanpa pengawalan?"

Pada saat itu, memang terdapat kesalahan prosedur. Seharusnya, Lettu Inf Agus Rohman tidak berangkat sendirian. Tentu, itu akan mengancam jiwanya. Namun, karena loyalitas kepada pemimpin telah terbangun, perintah berisiko kematian pun siap.

Agus merasa bahwa keputusan dapat menentukan jalan hidup. Jika salah mengambil keputusan, pasti akan ada penyesalan, mungkin penyesalan itu tidak datang saat itu juga, mungkin dua tahun kemudian atau bertahun-tahun yang akan datang. Keputusan Agus Rohman untuk membawa pistol adalah tepat baginya.

Bagi Agus, keputusan yang diambil Kolonel Ryamizard Ryacudu adalah keputusan yang tepat. Demikianlah seorang pemimpin, ia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan. Dan kemampuan itu dimiliki oleh Ryamizard Ryacudu.

Sejak saat itu, Agus Rohman muda terinspirasi oleh Ryamizard Ryacudu. Ia mengikuti jejak-jejaknya. Salah satu hal yang diingat oleh Agus Rohman adalah saat Ryamizard Ryacudu menekankan pentingnya latihan.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya