Kelakar Mbah Ma'shum ke Kiai Bisri Mustofa saat Partai NU Dikalahkan Golkar pada Pemilu 1971

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis
Rabu 04 Oktober 2023 06:00 WIB
Kiai Masum Lasem (Foto: dok istimewa/Okezone)
Share :

Ketika didirikan pada 1964 dengan nama Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), organisasi ini pada mulanya adalah konfederasi dari berbagai organisasi kekaryaan yang didukung tentara. Tujuannya utamanya cuma satu, yaitu melawan pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kala menjadi presiden, Soeharto mengambil Golkar sebagai kendaraan politiknya. Pada pemilihan umum pertama di zaman kepresidenan Soeharto itu, Golkar mendapatkan 238 kursi, sedangkan Partai NU yang ada di urutan kedua hanya bisa meraih 58 kursi (18 persen dari 50 juta pemilih). Pemenang ketiga adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan cuma 20 kursi.

Atas pertanyaan Mbah Ma’shum, Kiai Bisri tidak menjawab fakta sebenarnya mengapa NU kalah dan hanya mendapatkan 58 kursi, jauh sekali di bawah Golkar. Kiai Bisri tentu saja dapat memahami dan menganalisis bahwa Pemilu 1971 adalah Pemilu yang semata-mata licik, brutal, dan penuh kekerasan dengan Partai NU sebagai sasaran utama, selain PNI.

Sekadar contoh, di Losarang, Indramayu, Jawa Barat, terjadi pembakaran kampung oleh aparat karena Partai NU menang 100 persen. Intimidasi oleh pemerintah kepada kaum santri terjadi di hampir seluruh basis Partai NU.

Lalu, apa jawaban Kiai Bisri atas pertanyaan Mbah Ma’shum?

“Enak betul NU, Mbah, habis ikut nggebuki PKI, lalu pemilu juga menang? Kok, NU seperti disayang Gusti Allah? Enak betul,” Demikian jawaban Kiai Bisri, sebagaimana diceritakan Kiai Masyhuri Malik.

Gaya bercerita Kiai Bisri Mustofa yang ringan dengan intonasi bicara dan gerakan tubuh yang khas membuat Mbah Ma’shum tertawa terkekeh-kekeh. Keahlian Kiai Bisri bercerita inilah, dan juga keberaniannya, yang disukai Mbah Ma’shum.

Unsur mengejutkan dari jawaban ini juga menjadi bahan refleksi Kiai Bisri yang waktu itu berumur 50-an. Tetapi memang, jawaban tersebut bukan sekadar gurauan. Menurut Kiai Ahmad Mustofa Bisri, Kiai Bisri adalah “kiai politik” yang sebenarnya.

Ia paham betul seluk-beluk politik, termasuk gonjang-ganjing 1965-1966.

“Keterpurukan/keterkucilan NU selama 32 tahun di bawah rezim Soeharto, menurut almarhum Kiai Bisri, adalah kualat oleh perlakuannya dalam pengganyangan PKI yang membabi buta dan tanpa pandang bulu,” kata Kiai Ahmad Mustofa Bisri, yang tak lain adalah putra Kiai Bisri.

Kiai Ahmad Syakir Ma'shum, putra Mbah Ma’shum yang waktu itu ikut dalam pembicaraan, mengutarakan ketidaksetujuan atas jawaban Kiai Bisri dengan mengatakan PKI itu bughat atau pemberontak.

Kiai Bisri tetap pada pendiriannya bahwa orang NU yang ikut menghantam PKI tetap salah. "Banyak anggota PKI itu syahadat, kenapa harus digebukin?" cerita Masyhuri Malik menirukan Kiai Bisri.

Mendengarkan putranya berdiskusi serius dengan Kiai Bisri, Mbah Ma'shum lagi-lagi gemujeng (tertawa) saja. Entah, apa makna tertawa Mbah Ma’shum ini.

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya