Pesawat Tempur Perang Dunia II Peninggalan Jepang Mengawal Kemerdekaan RI

Arief Setyadi , Jurnalis
Jum'at 17 November 2023 05:03 WIB
Pesawat Hayabusha (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA - Indonesia merupakan negara yang memiliki kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara. Termasuk dalam menjaga kedaulatan langit nusantara. 

Untuk mencapai kekuatan militer tersebut ada perjalanan panjang harus dilalui. Dalam sejarahnya, Indonesia pernah memiliki sejumlah pesawat peninggalan Tentara Jepang Dai Nippon usai kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Kala itu, Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta merupakan satu pusat kekuatan udara republik yang diserang Belanda. Buntut serangan tersebut, hanya tersisa empat unit dari 40 pesawat peningalan Jepang di Maguwo.

Empat pesawat tersebut yakni, dua unit pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y), satu unit Pesawat Guntai (Ki-51), dan satu lagi Pembom Hayabusha (Nakajima Ki-43) yang diberi nama Pangeran Diponegoro I.

Serangan militer Belanda ke sejumlah wilayah semakin masif dan membuat para kombatan republik mesti menyingkir ke pedalaman untuk bergerilya. Manuver yang dilakukan sekaligus untuk kekuatan republik tak serta-merta habis akibat agresi militer Belanda berkode “Operatie Product” melainkan menjadi shock therapy (terapi kejut).

Serangan revans pun mulai muncul di benak para kadet yang kemudian, disampaikan ke Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma oleh perwakilan kadet, Suharnoko Harbani.

Menukil buku ‘Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950’, awalnya gagasan itu ditentang KSAU lantaran menganggap para kadet masih terlalu muda. Namun, para kadet kukuh ingin unjuk gigi seperti para kombatan republik lainnya yang bergerilya di pedalaman.

“Saya tidak memerintahkan, tapi juga tidak melarang,” jawab KSAU kala itu dengan menatap tajam mata Kadet Suharnoko.

Seolah mendapat lampu hijau, dua pesawat Cureng, satu Guntei dan satu Pembom Hayabusa pun dipersiapkan dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Para teknisi pun tak tahu alasan mereka memodifikasi sejumlah pesawat agar bisa dipasangi sejumlah bom di bawah sayap pesawat, hingga hari H serangan, 29 Juli.

Sayangnya, Pesawat Hayabusa “Pangeran Diponegoro I” hingga beberapa jam pemberangkatan serangan, belum juga bisa diperbaiki. Sebab itu, hanya diterbangkan dua Pesawat Cureng dan satu Guntai dengan sasaran militer Belanda di Semarang dan Salatiga, Jawa Tengah, sebagaimana rancangan Wakil KSAU Urusan Operasi, Komodor Udara Abdul Halim Perdanakusuma.

Salah satu pesawat yang tersisa saat itu adalah Nakajima Ki-43 Hayabusa "Alap-alap kawah". Pesawat tersebut merupakan pesawat tempur yang digunakan Pasukan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang saat Perang Dunia II.

Kala itu, Jepang awalnya memposisikan sebagai saudara tua bagi Indonesia dengan membawa semangat 3A, yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. Namun, penjajahan Jepang malah banyak memberikan kerugian terhadap rakyat Indonesia.

Melansir TNI AU, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda III Hanandjoeddin terbang menggunakan pesawat pemburu Hayabusa dari Pangkalan Udara Bugis, Malang ke Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta pada 17 Maret 1947 atau tepat 75 tahun silam.

Pesawat tersebut diterbangkan setelah berhasil diperbaiki oleh OMU III Hanandjoeddin dan terbang ke PU Maguwo untuk menambah kekuatan udara di Pangkalan Udara Maguwo. Setelah tiba di Yogjakarta.

Kemudian, Pesawat Hayabusha diberi registrasi HN 201, dan Abdulrachman Saleh dan Hananjoeddin kemudian menghadap Komodor Udara Soerjadi Soejadarma di Markas Tinggi AURI untuk meminta petunjuk.

Komodor Udara Soerjadi Soejadarma mengajak Abdukrachman Saleh dan Hananjoeddin untuk menghadap Presiden RI Soekarno di Gedung Agung yang merupakan Istana Presiden. Pesawat tersebut menjadi warisan sejarah yang tak terlepaskan dari perjuangan kemerdekaan RI.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya