JAKARTA – Kemandirian penting untuk mengembangkan industri kebencanaan. Hal ini harus didukung dengan teknologi dan inovasi anak bangsa untuk menjawab tantangan, salah satunya pada resiliensi berkelanjutan.
Pembahasan kemandirian tersebut menjadi topik dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk menyusun peta jalan (roadmap) Teknologi, Inovasi, dan Industrialisasi Kebencanaan untuk Resiliensi Berkelanjutan. Indonesia telah memulai dan terus mengembangkan upaya-upaya untuk kemandiran tersebut. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta pada Kamis, 21 Desember 2023.
Sepanjang diskusi, teknologi dan inovasi kebencanaan yang dikembangkan di Tanah Air dipaparkan oleh sejumlah ahli.
Salah satunya ahli dari BRIN Wahyudi Hasbi, mengenai teknologi satelit. Ia mengatakan, satelit Lapan A3 dan A1 pada polar orbit dan Lapan A2 pada ekuatoral orbit.
“Kita bisa melakukan pemantauan area bencana dengan frekuensi waktu yang cepat, yang biasanya harus menunggu 21 hari,” ujarnya dikutip, Jumat (22/12/2023).
Hal senada disampaikan Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Ia menjelaskan, Indonesia mengembangkan teknologi sensor synthetic aperture radar (SAR) yang telah diaplikasikan pada berbagai platform seperti drone, microsatelit, dan pesawat.
Dikatakannya, manfaatnya sangat luas, terutama dalam sektor kebencanaan, seperti pemantauan bencana alam, pencarian dan penyelamatan, pemantauan kebakaran, dan monitoring gempa bumi. "Dari segmen angkasa, semuanya sudah siap" tutur Josaphat.
Masih terkait dengan sistem sensor, Dr. Michael A. Purwadi menyampaikan sistem sensor tsunami yang ditempatkan di dasar laut telah terbukti efektif dalam mendeteksi gelombang tsunami sejak sekitar 50 tahun yang lalu pada technology readiness (TRL) level 1. Indonesia telah membuat dan menguji sistem sensor tsunami pada TRL 5 dan TRL 6.
“Beberapa keberhasilan telah dicapai, terutama dalam mendeteksi tsunami karena gempa, membutuhkan sekitar 15 menit sebelum gelombang tsunami mencapai garis pantai, mengalami peningkatan dari 5 menit pada mulanya,” ungkap Michael.
Selanjutnya, Dr. M. Sadly menjelaskan dari sisi upaya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menghadapi tantangan seismik dengan dedikasi tinggi, pengembangan teknologi termasuk high-performance computing, dan peran aktif dalam menyediakan informasi operasional 24/7 terkait cuaca dan gempa.