Meskipun sudah lama ada kekhawatiran etis seputar ibu pengganti, termasuk apakah praktik tersebut eksploitatif.
Dalam pidatonya pada Senin (8/1/2024), Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa ia menyatakan dengan penyesalan, terutama di negara-negara Barat, terus menyebarnya budaya kematian, yang atas nama belas kasihan palsu membuang anak-anak, orang tua dan orang sakit.
Seperti diketahui, Paus telah menghadapi penolakan dari kalangan gereja yang lebih tradisionalis atas beberapa pendekatannya terhadap isu-isu kontemporer. Termasuk keterbukaan untuk memberikan komuni kepada umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, sambutan pastoralnya terhadap kelompok LGBTQ, dan fokusnya pada migran serta krisis iklim.
Bulan lalu, Paus Fransiskus secara resmi mengizinkan para pendeta Katolik Roma untuk memberkati pasangan sesama jenis, sebuah perubahan signifikan dalam pendekatan gereja terhadap kelompok LGBTQ+.
Menurut dokumen Vatikan yang disetujui oleh Paus, pemberkatan tersebut dapat dilakukan asalkan tidak menjadi bagian dari ritual atau liturgi Gereja yang biasa, atau pada saat yang sama sebagai persatuan sipil.
Namun, dia mengambil sikap tegas terhadap aborsi, yang dia ibaratkan seperti mempekerjakan “pembunuh bayaran untuk memecahkan masalah,” dan ibu pengganti.
Pada 2022, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ibu pengganti adalah “praktik ‘rahim sewaan’ yang tidak manusiawi dan semakin meluas, di mana perempuan, yang hampir selalu perempuan miskin, dieksploitasi dan anak-anak diperlakukan sebagai komoditas.
(Susi Susanti)