Di hari yang sudah memasuki petang tersebut, Arya Penangsang langsung meninggalkan buka puasanya dan mengerahkan prajurit Jipang untuk melawan tentara Pajang. Sebagai kendaraan tempurnya, Arya Penangsang menggunakan seekor kuda andalannya yang disebut Gagak Rimang.
Di tengah arena pertempuran, Arya Penangsang langsung mencari Sultan Hadiwijaya, tetapi yang ditemukan justru anak bau kencur yang bernama Sutawijaya. Kuda Arya Penangsang, Gagak Rimang saat itu sedang dilanda birahi. Mengetahui kondisi kuda yang dikendarai oleh Arya Penangsang ini, Sutawijaya diberi kuda betina oleh ayahnya, Ki Ageng Pamanahan.
Kuda Gagak Rimang yang tengah dibakar birahi dan sedang ditunggangi oleh Arya Penangsang, sontak dengan penuh nafsu langsung mengejar kuda betina yang ditunggangi oleh Senopati. Kuda betinanya Senopati lalu melompati sebuah Bengawan Sore. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di pinggir sungai ini.
Ketika sudah di tengah Bengawan Sore itu, Arya Penangsang pun perang tanding dengan Sutawijaya. Sebenarnya Sutawijaya bukan lawan yang sebanding dengan Arya Penangsang, mengingat Senopati sendiri hanyalah bocah belasan tahun yang pengalaman tarungnya juga kesaktiannya belum seberapa. Sementara Arya Penangsang sendiri adalah seorang adipati yang terkenal jadug dan lihai dalam pertempuran.
(Fakhrizal Fakhri )