TNI berperan penting dalam menjaga pertahanan, keamanan, dan kedaulatan Indonesia. Lahir dari rahim rakyat, TNI terus berkontribusi dan menunjukkan eksistensinya dalam mempertahankan keutuhan NKRI.
TNI awalnya dibentuk dengan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 1945, kemudian berubah jadi TKR atau Tentara Keamanan Rakyat lalu Tentara Republik Indonesia (TRI). Baru pada 1947, digunakan nama Tentara Nasional Indonesia atau TNI.
Dalam perjalanannya, TNI melahirkan banyak tokoh penting. Beberapa petinggi TNI namanya masih harum sampai kini, dikenal sebagai tokoh penting yang menjaga kedaulatan bangsa. Siapa saja? Berikut empat di antaranya.
1. Jenderal Soedirman
Jenderal Besar TNI (Anumerta) Soedirman merupakan salah satu tokoh besar Tanah Air. Dilansir dari situs resmi Pusat Sejarah TNI, Soedirman dianugerahi Pangkat Kehormatan Jenderal Besar TNI pada 30 September 1997. Disebutkan, penganugerahan Pangkat Jenderal Berbintang Lima ini adalah sebuah peristiwa yang sangat istimewa. Karena, hanya diberikan kepada prajurit yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara.
BACA JUGA:
Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Jenderal oleh presiden Soekarno pada 18 Desember 1945. TKR sendiri kemudian berganti nama menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 24 Januari 1946.
Berbicara tentang Soedirman, maka masyarakat akan diingatkan tentang kisah gerilyanya selama 7 bulan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ia tengah berada dalam kondisi sakit hingga harus ditandu anak buahnya. Setelah berjibaku berbulan-bulan, perang antara TNI dan rakyat melawan tentara Belanda itu berhasil menciutkan nyali pasukan Belanda hingga mundur. Soedirman menghembuskan nafas terakhir pada 29 Januari 1950 karena kondisi kesehatannya yang sangat memburuk.
2. Laksamana RE Martadinata
Raden Eddy Martadinata atau yang lebih dikenal dengan R.E Martadinata merupakan pahlawan nasional Indonesia, yang juga berjasa dalam TNI terutama TNI AL (Angkatan Laut). Ia lahir pada Maret 1921 di Lengkong Besar, Bandung.
Mengutip informasi dalam laman Pusat Sejarah TNI, R.E Martadinata menggalang persatuan dan kekuatan demi menyongsong kemerdekaan, bersama beberapa pelaut lain seperti Suparlan, Achmad Hadi dan Untoro Kusmardjo. Hingga akhirnya, BKR atau Badan Keamanan Rakyat Laut Pusat terbentuk di Jakarta pada 10 September 1945.
Martadinata ditunjuk sebagai pimpinan laut BKR-Banten, dan bertugas membendung masuknya tentara asing ke pulau Jawa. BKR Laut resmi berubah nama menjadi TKR Laut, ketika lahirnya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945. Sebulan kemudian, nama itu berubah lagi menjadi ALRI atau Angkatan Laut Republik Indonesia. Martadinata adalah salah satu tokoh dibalik terbentuknya ALRI. Keinginannya yang kuat untuk membangun ALRI terlihat ketika ia mengusulkan gagasan dilakukannya pendidikan profesional untuk ALRI.
BACA JUGA:
Laksamana R.E Martadinata gugur pada 6 Oktober 1966, tepat sehari setelah perayaan HUT TNI. Ketika itu, helikopter yang ia kemudikan jatuh di Puncak, Jawa Barat. Dirinya diangkat sebagai pahlawan Nasional, berdasarkan surat keputusan Presiden RI no. 22 tahun 1966.
3. Jenderal A.H Nasution
Abdul Haris Nasution lahir di Tapanuli Selatan pada 3 Desember 1918. Ia mulai tertarik pada bidang militer dan mengikuti pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) atau KNIL di Bandung pada 1940-1942.
Di tubuh TNI AD, Nasution terkenal sebagai seorang pemikir dan konseptor ulung. Menurut Pusat Sejarah TNI, Nasution memiliki beberapa gagasan dalam rangka pembangunan TNI. Diantaranya adalah konseptor perang gerilya, konseptor operasi penumpasan PKI Madiun 1948, memimpin MBKD (Markas Besar Komando Djawa) pada masa agresi militer II Belanda, pemerkasa politik “Kembali ke UUD 1945”, dan perumus Konsepsi Jalan Tengah.
Nasution juga berperan dalam pembebasan Irian Barat dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda sebagai langkah awalnya. Karena kemampuannya yang luar biasa itulah, Nasution mendapat penghargaan dari beberapa universitas. Gelar Doktor diterimanya dari Universitas Padjadajaran dan Universitas Islam Sumatera Utara. Sementara itu, gelar Doktor Causa dalam bidang Politik Ketatanegaraan didapatnya dari Filipina.
BACA JUGA:
Dalam peristiwa pemberontakan G30S/PKI, Nasution berhasil lolos dari kejaran Tjakrabirawa. Ia adalah target yang paling diincar, sebab paling lantang menolak masuknya paham komunisme di tubuh TNI AD dan menolak para petani dipersenjatai.
Penganugerahan pangkat Jenderal Besar TNI diterimanya pada 30 September 1997 dan tertuang dalam Keppres No.46/ABRI/1997. Ia wafat 3 tahun setelahnya, yakni pada 6 September 2000 karena sakit.