PEPERANGAN antara Kerajaan Mataram melawan Pajang terjadi ketika Senopati membela adik iparnya. Saat itu sang adik ipar bernama Raden Pabelan, ini dikenal sebagai pemuda yang urakan dan suka mengganggu anak serta istri orang.
Raden Pabelan sendiri merupakan anak dari Tumenggung Mayang yang menikahi adiknya Senopati Sutawijaya. Sosok Raden Pabelan sangat tampak tetapi konon berperilaku buruk. Ulah Raden Pabelan ini membuat masyarakat gelisah.
Ayahnya, Tumenggung Mayang, pun sangat malu dengan ulah buruk putra satu-satunya itu. Ia sudah seringkali menasehati Pabelan agar berprilaku baik dan jangan mengganggu istri dan anak orang lain, sebagaimana dikutip dari "Tuah Bumi Mataram : Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II".
Selain itu, Tumenggung Mayang juga sudah berkali-kali berusaha menikahkan putranya yang urakan itu, tetapi anak laki- lakinya itu tetap saja menolak. Pemuda itu suka menikmati kebebasannya dengan cara mengganggu gadis-gadis milik orang.
Sebab karena benar-benar jengkel, dan tidak bisa mengendalikan ulah anaknya yang tidak terpuji itu, Tumenggung Mayang kemudian menghendaki supaya anak semata wayangnya itu cepat mati saja. Maka, Tumenggung Mayang pun merancang strategi bagi kematian anaknya.
Suatu hari ia berkata kepada Pabelan, bahwa jika anaknya itu tidak mau beristri, tapi masih suka mengganggu anak-istri orang, maka hendaknya jangan kepalang tanggung. Jangan hanya berani mengganggu anak dan istri masyarakat awam.
Ia menantang Raden Pabelan untuk meniduri dan bercinta dengan putri Sultan Pajang yang bernama Putri Sekar Kedaton. Sebab, jika ia mati karena bermain cinta dengan putri raja, maka matinya akan terhormat. Tetapi jika ia mati karena mengganggu anak-istri orang awam, ia hanya menjadi manusia nista dan hina seumur hidup.