JAKARTA - Kisah Yotam Bugiangge, Prada TNI yang dipecat dan putuskan membelot jadi pentolan KKB Papua. Dia menjadi viral di media sosial usai dipecat secara tidak hormat dari TNI lantaran terlibat dalam organisasi kriminal tersebut.
Berikut kisah Yotam Bugiangge, Prada TNI yang dipecat dan putuskan membelot jadi pentolan KKB Papua:
Mantan anggota Kompi-C Yonif 756/WMS itu telah menghilang sejak tanggal 17 Desember 2021 silam.
Yotam Bugiangge saat itu kabur sembari membawa satu pucuk senjata SS-2 V1 milik TNI saat melaksanakan tugas jaga di kompi.
Perlu diketahui, SS2-V1 menjadi salah satu senapan serbu standar dalam inventory TNI saat ini. Senapan SS2-V1 memang cukup identik seperti lazimnya senapan standar blok barat atau NATO yang menggunakan kaliber 5.56 x 45 mm.
Tentunya senapan SS2-V1 dan turunannya ini sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan postur dan kondisi tubuh orang Indonesia sehingga nyaman digunakan dan cukup ergonomis.
Pangkat terakhir yang sempat diemban oleh Yotam Bugiangge di TNI AD sebelum memutuskan untuk menjadi petinggi KKB Papua tersebut adalah prajurit dua (Prada) yang berasal dari Batalyon Infanteri 756/Wimane Sili (Yonif 756/WMS).
Selain itu Yotam Bugiangge, menjadi pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) teroris. Sepak terjang kelompok ini semakin brutal serang pasukan TNI-Polri, beberapa hari belakangan ini. Yotam Bugiangge diketahui mantan prajurit dari Batalyon Infanteri 756/Wimane Sili (Yonif 756/MWS).
Yotam Bugiangge merupakan putra daerah asli orang Papua yang lahir 24 Mei 1999 di Gunia, Suku Nduga Papua, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.
Berbagai kejahatan dilakukan Yotam Bugiangge usai desersi dan bergabung dengan KKB Papua. Yotam pernah terlibat dalam aksi pembunuhan 11 warga di Nduga.
KKB teroris pimpinan Yotam Bugiangge yang merupakan anggota dari Egianus Kogoya juga pernah menembak dua pemuda di Jalan Poros Logpond KM 2, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Rabu 8 Maret 2023.
Sebelumnya, Kombes Faizal mengatakan Yotam dan Asbak merupakan anak buah Egianus Kogoya yang seringkali menyerang aparat keamanan dan warga sipil di Kabupaten Nduga, Yahukimo dan Pegunungan Bintang.
(Rina Anggraeni)