WASHINGTON – Koki sekaligus pendiri badan amal World Central Kitchen (WCK) Jose Andres mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara pada Rabu (3/4/2024) bahwa serangan Israel yang menewaskan tujuh pekerja bantuan makanannya di Gaza telah menargetkan mereka secara sistematis, mobil demi mobil.
Berbicara dalam wawancara video, Andres mengatakan kelompok amal yang ia dirikan memiliki komunikasi yang jelas dengan militer Israel, yang menurutnya mengetahui gerakan pekerja bantuannya.
“Ini bukanlah sebuah situasi sial dimana, 'oops', kami menjatuhkan bom di tempat yang salah," terangnya, dikutip Reuters.
“Bahkan jika kami tidak berkoordinasi dengan (Pasukan Pertahanan Israel), tidak ada negara demokratis dan militer yang dapat menargetkan warga sipil dan kelompok kemanusiaan,” lanjutnya.
Para pekerja bantuan tersebut tewas ketika konvoi mereka dihantam tak lama setelah mereka mengawasi pembongkaran 100 ton makanan yang dibawa ke Gaza melalui laut. Militer Israel menyatakan kesedihan yang mendalam atas insiden tersebut dan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menyebutnya tidak disengaja.
Andres mengatakan dia seharusnya berada di Gaza bersama timnya tetapi karena alasan yang berbeda tidak dapat kembali lagi ke Gaza.
Seperti diketahui, Netanyahu mengatakan pada Selasa (2/4/2024) bahwa Israel secara keliru membunuh tujuh orang yang bekerja untuk WCK dalam serangan udara di Gaza. Amerika Serikat (AS) serta sekutu lainnya meminta penjelasan soal insiden itu di tengah kecaman yang meluas.
Insiden ini meningkatkan tekanan internasional untuk mengambil langkah-langkah untuk meringankan bencana situasi kemanusiaan di Gaza, hampir enam bulan setelah pengepungan dan invasi Israel ke daerah kantong Palestina.
Serangan terhadap konvoi WCK ini menewaskan warga negara Australia, Inggris dan Polandia serta warga Palestina dan warga negara ganda AS dan Kanada.
WCK mengatakan stafnya bepergian dengan dua mobil lapis baja berlogo badan amal dan kendaraan lain.
Militer Israel menjanjikan penyelidikan dilakukan oleh badan independen, profesional dan ahli.
Dalam panggilan telepon pada Selasa (2/4/2024), PM Inggris Rishi Sunak mengatakan kepada Netanyahu bahwa Inggris terkejut dengan kematian tersebut, termasuk tiga warga Inggris, dan menuntut penyelidikan independen yang menyeluruh dan transparan.
(Susi Susanti)