Air tawar kemudian memancar dari lubang tempat tongkat itu ditanam, dan secara ajaib buku-buku brahmana itu muncul dari laut, masih utuh dan kering.
Sunan Bonang menunjukkan buku-buku itu kepada brahmana tersebut, yang mengakui bahwa itu adalah buku-bukunya. Lubang tempat tongkat itu ditancapkan kemudian menjadi sumber air tawar yang disebut Sungai Brumbung, yang masih digunakan oleh penduduk sekitar hingga saat ini.
Melihat keajaiban tersebut, brahmana tersebut menyadari bahwa pria berjubah putih di depannya adalah Sunan Bonang yang ia cari. Ia pun memohon maaf atas kelancangannya dan meminta agar diterima sebagai murid Sunan Bonang.
(Arief Setyadi )