Perlu diketahui, bagian kiri rumah Elsi, merupakan area milik apartemen yang tampak luas hingga menembus ke pintu masuk apartemen. Rumah yang telah berdiri sejak sebelum zaman kemerdekaan Indonesia itu kini tampak sangat tua, genteng dan pondasi bangunan yang terbuat dari kayu telah lapuk.
Cat berwarna putih pada bagian temboknya pun terlihat kusam dan terkelupas di sejumlah bagian. Tanahnya sendiri tampak lebih rendah dibandingkan tanah di area apartemen, di bagian sisi kanannya terdapat pohon kecil, dan sedikit lebih ke kiri terdapat pintu dan jendela yang tampak telah lapuk pula dimakan usia.
Di bagian depannya, terdapat tempat untuk mencuci, lalu galon hingga ember, tempat sepatu, antena televisi, hingga tempat untuk menjemur. Lalu, terdapat pula jalan setapak agar penghuninya bisa naik turun ke dalam rumah menuju pelataran apartemen.
Lalu, tepat di bagian kanan kirinya pula, terdapat tembok pot berukuran sedang untuk tanaman hingga ke bagian belakang rumah. Bukan menjadi rahasia bagi warga sekitar hingga penghuni apartemen jika rumah tersebut milik dan dihuni oleh pasangan suami istri Elis dan Chairul Bahri beserta satu orang anaknya.
Saat didatangi di kediamannya itu, Elis enggan untuk diwawancarai, begitu juga dengan suminya, Bahri yang sehari-harinya berjualan di kawasan Tanah Abang. Pasalnya, dia khawatir jika pemberitaan di media bisa membuat kesalahpahaman dengan berbagai pihak, termasuk dengan pihak apartemen.
(Awaludin)