Kepala polisi senior juga mengeluh bahwa mereka kehabisan amunisi. Polisi kelelahan. Kami mendengar bahwa mereka tidak memiliki amunisi yang memadai," terang Brigadir Jenderal pensiunan M Sakhawat Hussain mengatakan kepada BBC.
Namun, Sheikh Hasina tidak mau mendengarkan, dan tidak seorang pun yang bersedia untuk tidak setuju dengannya secara langsung. Setelah pertemuan tersebut, ia menyampaikan pesannya yang menantang. Ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai "teroris" dan mendesak orang-orang untuk melawan mereka yang ia gambarkan sebagai "pembakar”. Pasukan keamanan khawatir mereka akan segera menghadapi situasi yang mendekati perang saudara.
Pada Senin pagi (05/08/2024), sumber mengatakan, Sheikh Hasina menghubungi pejabat pemerintah di Delhi untuk meminta perlindungan. Saran dari India, sekutu setia sepanjang kariernya yang panjang, adalah agar dia pergi. Sehari sebelumnya, Washington dilaporkan telah memberi tahu pejabat kementerian luar negeri India bahwa waktu sudah habis bagi Hasina. Dia sudah kehabisan pilihan. "Dia mengundurkan diri ketika dia menyadari bahwa tentara tidak mendukungnya," kata M Sakhawat Hussain, pensiunan brigadir jenderal. "Orang-orang hendak melanggar jam malam dan berkumpul di Dhaka untuk berbaris menuju kediamannya," lanjutnya.
Namun begitu Sheikh Hasina dengan berat hati setuju untuk menandatangani dokumen pelepasan jabatannya, masih ada pertanyaan tentang bagaimana cara mengeluarkannya dari negara itu dengan aman. Seorang pejabat militer senior, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada BBC Bangla bahwa hanya Pasukan Keamanan Khusus, Resimen Pengawal Presiden, dan beberapa perwira militer senior di markas besar tentara yang tahu kapan Sheikh Hasina menandatangani surat pengunduran diri dan menaiki helikopter militer yang akan menerbangkannya keluar dari kediamannya. Semuanya dilakukan secara rahasia.
(Susi Susanti)