Diskriminasi Satu Agama Pernah Terjadi di Masa Hayam Wuruk Raja Majapahit 

Avirista Midaada, Jurnalis
Kamis 10 Oktober 2024 05:39 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Share :

Kemudian ia membagikan segala hartanya kepada orang lain lalu pergi bertapa. Ia ingin menjadi pahlawan dalam tapa brata. Empu Winada adalah pemeluk agama Budha. Pendeta yang sangat baik sikapnya dan putus dalam ilmu itu diberi nama Winada oleh Prapanca, sedangkan kata winada artinya "tercela".

Demikianlah, Prapanca mengadakan sindiran dengan menggunakan kata winada sebagai nama pendeta Budha. Ia sendiri ingin menjadi seperti empu Winada. Demikianlah sesungguhnya Prapanca juga termasuk golongan orang yang dicela. 

Ini terbukti dari pupuh 95/1 baris 1, di mana ia berkata: "Nasib badan dihina oleh bangsawan, hidup canggung di dusun", yang dimaksud dengan winada ialah pemeluk agama Budha. Jumlahnya banyak, karena pupuh 98/1 baris 4 memuat kata para winada cinala ri dalìm, orang-orang yang dicacat dan dicela di istana. Timbulnya celaan karena perselisihan. 

Justru karena jelas sekali pada baris tersebut dengan adanya kata ri dalen (di istana), maka perselisihan itu terjadi antara pemeluk agama Budha dan agama Siwa. Maklumlah, agama Siwa adalah agama negara pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk adalah pemeluk agama Siwa.

Begitulah, Prapanca sebagai pembesar urusan agama Budha di kerajaan Majapahit menjadi korban perselisihan agama Budha dan Siwa. Dari sudut ini kita sekarang dapat memahami mengapa Prapanca meninggalkan istana, hidup di dusun, kemudian bertapa di lereng gunung di desa Kamalasana.
 

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya