Korea Selatan, pemangku ekonomi terbesar keempat di Asia, hampir mengalami resesi teknikal pada 2024 setelah laju pertumbuhan ekonominya berhenti pada paruh kedua akibat ketidakstabilan politik internal. Kondisi ini mencapai puncaknya saat Presiden Yoon Suk Yeol dilengserkan karena dakwaan pengkhianatan, setelah ia memberlakukan status darurat militer selama beberapa waktu pada Desember.
Sebagai reaksi dari perlambatan ekonomi itu, Presiden Lee Jae-myung yang resmi menjabat sebagai Presiden baru pada 4 Juni, segera mengesahkan paket stimulus yang mencakup bantuan tunai, voucher digital, serta komitmen investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun begitu, beberapa analis ekonomi mencatat risiko adanya inflasi dan beban fiskal di masa mendatang, sebab pemerintah berencana membiayai program ini melalui penambahan utang. Kementerian Keuangan memperkirakan defisit anggaran sebesar 4,2% dan utang negara mencapai 49,1% dari keseluruhan PDB.
(Rahman Asmardika)