Seiring dengan itu, Suharyanto juga menekankan pentingnya pemadaman dari udara untuk menjangkau wilayah yang tidak bisa diakses tim darat. Ia menyebut dua unit helikopter water bombing telah disiagakan guna mendukung operasi.
“Ini akan kami evaluasi terus. Jika kurang, akan kami tambah. Prinsipnya, apabila ada titik api, masyarakat atau petugas dapat segera menghubungi posko, apakah perlu ditangani dengan OMC, helikopter, atau langsung oleh satgas darat. Namun dari sisi efektivitas dan efisiensi, satgas darat tetap yang paling optimal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan bahwa selain mobilisasi personel dan udara, BNPB juga memperhatikan aspek ketersediaan air di lapangan. Ini penting mengingat beberapa titik rawan tidak memiliki sumber air alami. Oleh karena itu, satgas darat telah dibekali peralatan modern berupa flexible tank berkapasitas sekitar 5 ton.
“Tangki fleksibel ini berfungsi seperti kolam kecil yang bisa diisi dari sungai, pompa, atau bahkan dari helikopter water bombing. Dari situ, air disalurkan melalui selang oleh dua petugas: satu mengatur pompa, satu mengarahkan semprotan. Air bisa habis, lalu langsung diisi kembali dari helikopter,” ungkapnya.
(Awaludin)