"Kondisi ini dipicu oleh kombinasi gangguan atmosfer yang membuat awan hujan mudah terbentuk dan berkembang," kata BMKG.
Faktor-faktor utama tersebut di antaranya keberadaan Bibit Siklon Tropis 96S dan 97S. Kemudian adanya seruakan dingin (Cold Surge) yakni masuknya massa udara dingin dari wilayah Asia ke wilayah Indonesia. Selain itu, adanya gelombang atmosfer yakni aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang memicu pertumbuhan awan hujan.
Selanjutnya karena kelembapan tinggi yakni kondisi udara yang sangat lembab di berbagai lapisan ketinggian. Ketidakstabilan atmosfer yang memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus (awan pembawa hujan badai) secara masif di area Jabodetabek.
(Arief Setyadi )