JAKARTA – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah mengambil jenazah sandera terakhir yang masih berada di Gaza. Evakuasi ini menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi fase pertama dari rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang di daerah kantong tersebut.
Tes forensik mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut adalah milik petugas polisi Israel, Ran Gvili, kata militer pada Senin (26/1/2026).
Jenazah Gvili sekarang akan dikembalikan untuk dimakamkan, menurut IDF.
Pembebasan sandera terakhir dimaksudkan untuk mengakhiri fase pertama rencana perdamaian Donald Trump, tetapi Yerusalem Barat telah menetapkan syarat-syarat lain.
Berdasarkan kerangka kerja awal Trump yang ditandatangani pada Oktober, pengembalian semua sandera, baik yang hidup maupun yang mati, seharusnya mengakhiri fase pertama kesepakatan tersebut. Namun, bahkan sebelum jenazah Gvili ditemukan, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa perjanjian tersebut beralih ke fase kedua, yang digambarkan sebagai fokus pada rekonstruksi dan demiliterisasi Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji penemuan jenazah Gvili, tetapi mengatakan bagian selanjutnya dari rencana tersebut sama sekali bukan tentang membangun kembali Gaza.
"Fase selanjutnya bukanlah rekonstruksi," katanya, sebagaimana diansir RT. "Fase selanjutnya adalah melucuti senjata Hamas dan demiliterisasi Jalur Gaza."
Hamas mengatakan militannya telah membantu menemukan jenazah tersebut, menyebut tindakan itu sebagai “konfirmasi komitmen kami terhadap gencatan senjata.”
Selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, 251 sandera ditawan dan sekitar 1.200 orang tewas. Israel menanggapi dengan kampanye militer besar-besaran di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000, menurut otoritas kesehatan setempat.
Ketika kesepakatan Trump ditandatangani pada Oktober, 48 sandera masih diyakini berada di Gaza, dengan 28 di antaranya diduga tewas, termasuk Gvili.
(Rahman Asmardika)