Sementara itu, Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru menegaskan pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat merupakan kebutuhan strategis untuk menjawab meningkatnya arus produksi dan distribusi komoditas unggulan daerah.
Menurutnya, dengan potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, dan industri pengolahan, Sumatra Selatan membutuhkan pelabuhan berkapasitas besar guna memperkuat kemandirian ekspor dan meningkatkan efisiensi logistik.
Namun demikian, Herman Deru menekankan bahwa optimalisasi Pelabuhan Tanjung Carat harus diiringi penguatan akses infrastruktur jalan menuju kawasan dermaga. Saat ini, akses utama melalui Jalan Tanjung Api-Api sepanjang sekitar 60 kilometer masih dalam kondisi rusak berat. Selain itu, dibutuhkan tambahan jalan sekitar 9 kilometer menuju dermaga utama, di mana sekitar 1 kilometer telah terbangun.
“Tanjung Carat adalah obsesi lama kami. Kami membutuhkan dukungan infrastruktur jalan agar konektivitas benar-benar kuat. Pelabuhan ini nantinya bukan hanya simpul logistik, tetapi juga pengungkit pertumbuhan ekonomi Sumatra Selatan,” ujar Herman Deru.
Usai rapat, Menko AHY kembali menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas pelabuhan untuk menopang ekspor daerah. Ia menilai selama ini sebagian komoditas unggulan Sumatra Selatan masih bergantung pada pelabuhan di provinsi lain.
“Komoditas Sumatra Selatan luar biasa, namun masih harus melalui wilayah lain. Harapannya, Sumatra Selatan memiliki kemandirian dan kemampuan mengekspor secara lebih masif,” kata AHY.
Untuk memastikan keberlanjutan proyek, pemerintah membuka peluang Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta investasi swasta. Skema tersebut dinilai penting agar pembangunan pelabuhan berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak optimal bagi masyarakat.
“Perencanaan harus menyeluruh dan komprehensif, termasuk kejelasan pembiayaan, agar proyek infrastruktur benar-benar berdampak,” pungkas AHY.
(Awaludin)