Jelas, konflik domestik dan global yang diciptakan Trump menjadikan AS kehilangan kepercayaan dunia. Polarisasi sosial politik domestik pun menajam. Dukungan moral global untuk AS makin terkikis sejak AS melindungi Netanyahu dan meremehkan vonis ICJ. Trump mengatakan kepada Netanyahu, do what you want to do. Di sahuti Netanyahu, do what I say. Tentu saja, AS adalah Israel besar, Israel adalah AS kecil. Ini bukan konspirasi. Ini sejarah kontemporer berabad yang memiliki hubungan signifikan dengan nilai-nilai, kelebihan dan kebiasaan Yahudi, termasuk sikap multiple suitable standardnya.
Mengiringi kematian Khamenei, Iran menyerang fasilitas nuklir Dimona di Israel Selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menahan diri dan berupaya membungkam media guna mencegah berbagai dampak negatif atas serangan Iran itu. Perang ini --sebagaimana Iran bertahan lebih dari 45 tahun atas invasi, intervensi, infiltrasi, dan interferensi AS-- akan berlansung panjang.
Dewan Keamanan PBB yang mandul akan tetap mandul. Bersama Sekjen PBB mereka menyerukan de-eskalasi dan penghormatan hukum international. Ini bukti, kedamaian yang digagas Trump adalah kedamaian berbasis kekuatan militer dan non militer yang memaksa. Pada Indonesia hal ini terwujud melalui penyertaannya di BoP dan ART 19 Februari 2026. Berbagai kalangan AS sendiri menilai, serangan AS terhadap Iran melanggar konstitusi karena hak menyatakan perang ada pada Kongres.
AS memang tidak sedang berstrategi perang harga energi. Pemilik hulu ledak nuklir sekitar 5.200 ini telah memasuki perang ekonomi dengan pendekatan struktural energi dan struktural sektor lainnya. Yakni dari penguasaan sumber daya strategis, penentuan kualitas dan kuantitas produksi, distribusi, dan harga.
Trump bukan hanya mengganggu pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz, tetapi juga mengganggu ketahanan energi rivalnya, China. Strategi mata rantai pasokan berbasis teknologi komunikasi pun didaya gunakan optimal. Alasan utamanya, mencegah dampak negatif keruntuhan hegemoninya. Selama hampir 80 tahun hegemoni itu terwujud dengan menggunakan dolar AS sebagai senjatanya.
Trump sedang berjuang mengembalikan keperkasaan green back. Inilah yang saya sebut ratusan kali dalam berbagai seminar dan diskusi, bahwa sejak kekalahan industri manufaktur AS melawan China pada 2008, perang hibrida akan berlangsung. Bill Gates pada 2010 bahkan menyebutnya perlu mengatasi lonjakan populasi dunia melalui vaksin dan berbagai strategi filantropi berbasis kesehatan lainnya.
Tak pelak, perang non militer bersamaan dengan perang militer berlangsung. Maka negara kuat akan bertahan, negara lemah pasti kalah. Di balik semua itu, AS sangat bersungguh-sungguh menyinambungkan pengendaliannya atas dunia, walau dengan biaya mahal. Beban ini dengan keperkasaan green back, dapat dialihkan kepada negara pengguna dolar AS. Ini strategi di balik fiat money dolar AS.
Layak dicatat, sebelum perang AS-Israel dengan Iran, Indonesia sendiri sudah tertekan secara struktural melalui kejatuhan nilai tukar berkesinambungan. Kini diperdalam dengan Agreement on Reciprocal Trade 19 Februari 2026. Dampak lanjutannya adalah gejolak harga dan tekanan biaya. Indonesia yang pada 2025 mengimpor energi senilai 32,76 miliar dolar AS akan menghadapi potensi kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS perbarel.
Neraca perdagangan akan tertekan di saat neraca modal melulu defisit. Kenaikan harga minyak juga akan menekan konsumsi masyarakat karena kebutuhan mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli energi yang impor. Inflasi karena barang impor tak terelakkan, maka rupiah terancam terus melemah. BI pun akan terus operasi pasar guna memperkuat rupiah. Cadangan devisa pun terancam menurun.