Kemudian, merujuk pada sumber hadis, Mu’ti menegaskan mulanya praktik ini tak lepas dari ajaran agama Islam. Mu’ti menjelaskan, agama tidak hanya menjadi sumber ajaran spiritual, namun juga menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menciptakan budaya yang hidup dalam keseharian.
“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka ia bergembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu dengan Rabb-nya, ia bergembira karena puasanya,” ujar Mu’ti, mengutip hadis riwayat Muhammad, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Selanjutnya, ia menambahkan sumber hadis lain tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa.
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” tegasnya, menambahkan hadis riwayat Tirmidzi.
Dalam ajaran itu kemudian berkembang hingga saat ini praktik sosial berupa buka puasa bersama yang dilakukan masyarakat secara luas.