JAKARTA – Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz “terbuka” dan kapal-kapal dari negara “yang tidak bermusuhan” dapat melintasi jalur air utama tersebut. Pernyataan itu disampaikan Teheran di tengah krisis akibat penutupan Selat Hormuz yang memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade.
Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (24/3/2026), misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa kapal-kapal dapat memanfaatkan “jalur aman” melalui Selat Hormuz. Teheran memberi syarat bahwa kapal-kapal tersebut “tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan serta keamanan yang telah ditetapkan.”
Kapal-kapal akan diizinkan melintasi selat tersebut “dengan berkoordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang,” demikian pernyataan yang diunggah di media sosial, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Sebelumnya, Iran telah menyampaikan pernyataan serupa mengenai status Selat Hormuz kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan PBB yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pelayaran internasional.
Teheran tidak menjelaskan secara rinci mengenai peraturan apa yang harus dipatuhi kapal untuk dapat melintasi selat tersebut dengan aman, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Pernyataan Iran muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung untuk mengakhiri perang AS–Israel di Iran, meskipun Teheran sebelumnya membantah adanya pembicaraan tersebut.
Meskipun sejumlah kecil kapal melewati selat setiap hari, lalu lintas tetap jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Lima kapal tercatat melintasi jalur air melalui sistem identifikasi otomatis pada Senin (23/3/2026), turun dari rata-rata 120 transit harian sebelum konflik, menurut perusahaan intelijen maritim Windward.
Pada awal konflik, Iran sempat memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melintas akan menghadapi serangan. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pejabat Teheran menegaskan jalur air tersebut tetap terbuka, kecuali bagi “musuh.”
Terhambatnya aktivitas pelayaran di selat itu telah memicu lonjakan harga energi global, dengan beberapa analis memperkirakan harga minyak bisa naik hingga USD150 atau bahkan USD200 per barel jika jalur air tersebut tetap tertutup.
Setelah berfluktuasi di atas USD100 per barel selama sebagian besar Maret, minyak mentah Brent—patokan minyak internasional—turun lebih dari 9 persen pada Rabu setelah The New York Times, kantor berita Reuters, dan Channel 12 Israel melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang.
(Rahman Asmardika)