Sementara itu, dari sisi energi terbarukan, Yudo Dwinanda Priaadi melihat momentum krisis ini sebagai peluang percepatan transisi energi.
“Ini saat yang tepat untuk mempercepat pengembangan energi baru seperti PLTS hingga PLTN,” katanya.
Diskusi juga menyoroti peran energi alternatif. Perwakilan industri, Turino Yulianto dari PT Bukit Asam, menyebut batubara masih menjadi penopang penting energi nasional, termasuk melalui program gasifikasi sebagai substitusi LPG.
Di sektor transportasi, Kukuh Kumara dari Gaikindo dan Hari Budianto dari AISI menilai industri otomotif telah siap mendukung penggunaan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.
Lalu Ketua Umum KSPSI, Jumhur Hidayat, bahkan menilai penyesuaian harga BBM bisa menjadi opsi untuk menjaga kesehatan fiskal.
“Tidak masalah jika harga BBM naik sementara, dibandingkan defisit anggaran yang semakin melebar,” ujarnya.
Diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi, mulai dari pengendalian subsidi, efisiensi belanja negara, hingga pembentukan satuan tugas khusus untuk menjaga stabilitas energi dan fiskal. Satu benang merah mengemuka: Indonesia tidak bisa lagi menunda pembenahan struktur energi nasional di tengah ancaman krisis global yang kian nyata.
(Awaludin)