FGD yang berlangsung intens itu akhirnya tidak berhenti pada diagnosis masalah. Sejumlah rekomendasi mengemuka—mulai dari pengendalian subsidi, efisiensi belanja negara, hingga pembentukan satuan tugas khusus untuk menjaga stabilitas fiskal dan energi.
Namun di atas semua itu, satu benang merah terasa kuat: Indonesia tidak lagi bisa menunda pembenahan struktur energi.
Menjelang sore, diskusi ditutup dengan suasana yang lebih cair. Para peserta saling berbincang dalam ramah tamah, dalam nuansa halal bihalal Lebaran 1447 H yang masih terasa hangat di ruang publik. Di tengah tawa dan saling bersalaman, satu kesadaran tampak mengendap: krisis energi bukan lagi ancaman jauh di horizon. Ia sudah berdiri di depan pintu—dan pilihan yang tersedia bukan lagi menunggu, melainkan bersiap.
(Awaludin)