JAKARTA – Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) menyepakati gencatan senjata sementara dengan Iran. Serangan rezim zionis telah menewaskan setidaknya 265 orang di seluruh Lebanon, dengan 1.165 orang terluka, menurut Pertahanan Sipil Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan di Facebook pada Rabu (8/4/2026), Pertahanan Sipil Lebanon mengatakan korban jiwa tercatat di seluruh negeri, termasuk Baalbek, Nabatieh, Sidon, dan Tyre. Tim darurat melakukan evakuasi, menyelamatkan warga sipil yang terjebak di bawah reruntuhan, serta mengangkut korban luka dalam kondisi yang “sangat berbahaya dan rumit.”
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, dengan para pejabat memperingatkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan akan meningkat seiring tim terus membersihkan puing-puing.
Sebelumnya pada Rabu, Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine mengatakan bahwa gelombang besar serangan Israel di Lebanon menewaskan setidaknya 89 orang dan melukai 722 lainnya. Serangan itu terjadi setelah Israel menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata yang disepakati oleh AS dan Iran.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh Israel menyerang “daerah pemukiman padat penduduk” meskipun ada upaya gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan di X, Salam mengatakan Lebanon menyambut baik pengumuman gencatan senjata baru-baru ini antara Iran dan AS.
“Sementara kami meningkatkan upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, Israel terus meningkatkan serangannya yang menargetkan daerah pemukiman padat penduduk dan merenggut nyawa warga sipil tak berdosa di seluruh Lebanon, khususnya di ibu kota, Beirut,” ujarnya, sebagaimana dilansir TRT.
Perdana menteri menuduh Israel “mengabaikan semua upaya regional dan internasional untuk mengakhiri perang.”
Israel “secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan hukum humaniter internasional, yang sejak awal tidak pernah dihormatinya,” katanya, seraya menyerukan kepada sekutu Lebanon “untuk menghentikan serangan-serangan ini dengan segala cara yang tersedia.”
Dalam sebuah pernyataan, Kepresidenan Lebanon mengatakan bahwa “serangan-serangan barbar, yang tidak menghormati perjanjian maupun komitmen, berulang kali menunjukkan pengabaian Israel terhadap semua hukum dan norma internasional.”
Disebutkan bahwa “lebih dari lima belas bulan sejak perjanjian gencatan senjata pada November 2024, banyak pelanggaran dan penyimpangan telah tercatat tanpa adanya efek jera.”
“Israel sekali lagi terus melakukan agresi, menentang semua nilai-nilai kemanusiaan dan mengabaikan upaya yang bertujuan untuk de-eskalasi dan stabilitas,” tambah kepresidenan.
Kepresidenan Lebanon menyatakan Israel “bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari eskalasi berbahaya ini.”
Mereka menekankan bahwa “melanjutkan kebijakan agresif ini hanya akan meningkatkan ketegangan dan ketidakstabilan di kawasan tersebut.”
Kepresidenan menyerukan kepada komunitas internasional untuk “memikul tanggung jawabnya menghentikan serangan berulang ini dan mengakhiri pendekatan yang mengancam keamanan serta stabilitas.”
Sementara itu, Kepala Staf Israel Eyal Zamir bersumpah untuk melanjutkan serangan militer di Lebanon “tanpa gangguan,” saat Israel melancarkan serangan terbesarnya sejak eskalasi dimulai pada Maret, di bawah operasi yang disebut “Kegelapan Abadi.”
Tentara Israel mengatakan pada Rabu bahwa mereka menyerang lebih dari 100 lokasi “dalam waktu 10 menit” di berbagai wilayah Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dalam serangan terkoordinasi “terbesar” sejak dimulainya operasi saat ini di Lebanon.
(Rahman Asmardika)