“Suhu ruang kemasan di atas 20 derajat, tidak tersedia alat pemantau suhu di gudang, fasilitas gudang bahan kimia dan instalasi pengolahan air limbah belum memenuhi standar, serta loker pegawai yang tidak representatif,” tuturnya.
Sebagai informasi, peristiwa ini terjadi pada Jumat 3 April setelah pada Kamis 2 April sore, pihak SPPG menerima laporan dari guru terkait sejumlah siswa yang mengalami gejala sakit perut, diare, dan mual setelah mengonsumsi makanan.
Menu yang disajikan meliputi spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi. Adapun dugaan sementara penyebab kejadian berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi tidak dalam kondisi segar, Nanik menilai jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi berpotensi menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan.
(Arief Setyadi )