JAKARTA - Persatuan bangsa menjadi hal krusial di tengah tantangan geopolitik global dan derasnya arus informasi digital. Kalangan muda terutama mahasiswa pun perlu memperkuat peran strategis, bukan hanya sekadar mengikuti isu yang sedang viral.
Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan, mengatakan, mahasiswa harus mampu memahami substansi persoalan secara utuh. Mahasiswa, menurutnya, juga harus paham posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar.
"Jangan sampai ikut menggiring opini tanpa memahami mekanisme konstitusi yang benar,” katanya dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”, dikutip Rabu (22/4/2026).
Tirta menilai, penguatan literasi hukum dan politik menjadi hal penting agar mahasiswa tidak terjebak dalam narasi yang berpotensi memecah belah. Ia juga menyoroti dampak luas jika persatuan nasional terganggu.
“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana—investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” katanya.
Menurut Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan. “Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi bagaimana kita menjaga kesatuan berdasarkan konstitusi,” imbuhnya.
Ketimpangan pembangunan antarwilayah, kata Yogi, juga perlu menjadi perhatian dalam kebijakan nasional. Ia menegaskan, mahasiswa harus tetap kritis, namun juga objektif dalam memahami tujuan kebijakan.
“Kebijakan adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan. Maka kita harus kritis, tapi juga objektif melihat konteksnya,” tuturnya.
Sedangkan Koordinator Pusat BEM SI Muzammil Ihsan, menyoroti kondisi geopolitik global turut memengaruhi situasi dalam negeri, khususnya sektor ekonomi.
“Geopolitik dunia hari ini sangat memengaruhi kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa harus bisa menjelaskan ini ke masyarakat, tapi tetap kritis terhadap kebijakan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya disinformasi di media sosial yang berpotensi memicu perpecahan. Untuk itu, penting dalam melakukan verifikasi terhadap setiap informasi.
“Jangan sampai kita mudah terpecah hanya karena narasi yang tidak jelas. Kita harus verifikasi setiap informasi,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )