JAKARTA — Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan bahwa Iran telah "mempermalukan" Amerika Serikat (AS) dengan membawa utusan Washington ke Pakistan untuk melakukan pembicaraan yang tidak membuahkan hasil. Pernyataan Merz ini memperlihatkan keretakan antara AS dengan sekutu-sekutu Eropanya terkait ketegangan di Iran.
“Seluruh bangsa (AS) dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusi ini. Karena itu, saya berharap ini berakhir secepat mungkin,” kata Merz, sebagaimana dilansir Reuters.
Krisis Iran yang berkepanjangan terus membuat hubungan antara Washington dan mitra NATO-nya semakin tegang. Baru-baru ini, sebuah memo Pentagon yang bocor tampaknya menunjukkan bahwa AS mempertimbangkan opsi untuk menghukum sekutu yang tidak mendukung Presiden Donald Trump dalam misi militernya di Iran.
Merz, yang mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara Ramstein untuk mengoordinasikan serangan terhadap Iran, mengatakan bahwa ia tidak dapat melihat strategi keluar (exit strategy) yang dikejar Trump untuk mengakhiri konflik. Trump sendiri mengeklaim konflik telah dihentikan sementara sampai kesepakatan tercapai.
“Jika saya tahu bahwa ini akan berlanjut seperti ini selama lima atau enam minggu dan semakin memburuk, saya akan mengatakannya kepada beliau dengan lebih tegas,” kata Merz. Ia membandingkan konflik di Iran dengan perang berkepanjangan Washington di Irak dan Afghanistan.
Prospek perdamaian kembali tertutup pada Sabtu (25/4/2026) ketika Trump membatalkan rencana untuk mengirim delegasi ke Islamabad guna bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Araghchi membawa proposal baru yang membayangkan pembicaraan secara bertahap, dengan isu nuklir dikesampingkan pada tahap awal.