JAKARTA — Rangkaian bunga memenuhi area lantai dua Stasiun Bekasi Timur menjadi simbol duka kolektif atas kepergian 16 perempuan yang menjadi korban kecelakaan kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL, pada Senin 27 April 2026 malam. Para penumpang datang silih berganti untuk meletakkan bunga dan menyampaikan doa, menciptakan ruang hening di tengah rutinitas perjalanan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menilai, momen ini mencerminkan kuatnya ikatan emosional di antara para pengguna Commuter Line. Ia mengatakan, empati yang ditunjukkan para pelanggan menjadi gambaran kebersamaan yang terbangun dari rutinitas perjalanan.
“Kami melihat bagaimana pelanggan hadir dengan ketulusan, membawa doa, dan saling menguatkan. Meskipun tidak saling mengenal, ada rasa kebersamaan yang tumbuh dari perjalanan yang dijalani setiap hari,” ujar Anne, Minggu (3/5/2026).
Data KAI menunjukkan tren peningkatan pengguna Commuter Line, khususnya di lintas Cikarang. Frekuensi perjalanan meningkat dari 158 perjalanan per hari pada 2015 menjadi 281 perjalanan per hari pada 2025. Jumlah pengguna juga terus naik, dari 55,6 juta pada 2022 menjadi 85,9 juta pada 2025. Pada triwulan I 2026, tercatat 21,7 juta pelanggan telah menggunakan layanan ini.
Di tengah peningkatan tersebut, peristiwa duka ini mengingatkan bahwa di balik angka-angka terdapat kisah para pekerja, termasuk perempuan-perempuan yang setiap hari menempuh perjalanan panjang demi keluarga.
Hingga kini, bunga terus berdatangan. Para pengguna datang dan pergi, meninggalkan doa dan penghormatan. Di stasiun yang biasanya menjadi titik keberangkatan, banyak orang memilih berhenti sejenak—menundukkan kepala, mengenang, lalu melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang berbeda.
Sementara itu, Alesya, salah satu pengguna Commuter Line mengaku sengaja untuk memberikan rangkaian bunga di Stasiun Bekasi Timur. Hal itu ia lakukan lantaran merasa kehilangan teman perjalanan.
“Saya setiap hari naik KRL. Entah kenapa rasanya dekat, seperti kehilangan teman perjalanan,” ujar Alesya.
Hal serupa disampaikan Kresna, yang juga datang untuk memberikan penghormatan. “Tiap hari kita berangkat bareng, walau tidak saling sapa. Tapi rasanya tetap satu perjalanan,” katanya.
Di antara bunga yang diletakkan, tampak pula foto-foto para korban. Sebanyak 16 perempuan tersebut dikenal sebagai pekerja yang setiap hari menggunakan KRL untuk beraktivitas, berpindah antarwilayah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
(Arief Setyadi )