JAKARTA – Pesawat tempur F-4E Phantom II milik Iran dan jet tempur F-16CJ Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) terlibat baku tembak dalam sebuah misi penetrasi udara di wilayah Arab Saudi, menurut laporan. Insiden ini mengakibatkan F-4 melakukan pendaratan darurat di Iran, kemungkinan setelah mengalami kerusakan terbatas.
Insiden tersebut menyoroti celah serius pada sistem pertahanan udara AS dan mitra strategisnya. F-4 dan F-5, pesawat tua yang secara teknis sudah tertinggal zaman, tetap menjadi tulang punggung armada jet tempur Iran namun terbukti mampu menghindari beberapa sistem pertahanan udara Barat yang disebut-sebut paling tangguh di dunia. Kejadian ini menyusul konfirmasi pada akhir April bahwa sebuah F-5E Angkatan Udara Iran berhasil melakukan serangan bom terhadap Camp Buehring di Kuwait, menembus pertahanan udara berlapis milik AS dan Kuwait.
Dilansir Military Watch Magazine, pada Februari lalu, Angkatan Udara AS mengerahkan dua skuadron pesawat tempur F-16CJ dari pangkalan di AS dan Eropa ke Timur Tengah, yang diindikasikan ditempatkan di Arab Saudi. Berbeda dengan versi standar, F-16CJ telah dilengkapi dan disertifikasi untuk Sistem Penargetan AN/ASQ-213 HARM. Sistem ini berupa pod yang dipasang di sisi saluran masuk udara untuk secara pasif mendeteksi pemancar radar musuh dan memberikan data penargetan akurat bagi rudal anti-radiasi AGM-88 HARM.
Pesawat-pesawat tersebut diprioritaskan pengirimannya ke Timur Tengah sebelum dimulainya operasi serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Pengerahan ini didasarkan pada asumsi bahwa meskipun kekuatan udara Iran terbatas, mereka memiliki jaringan pertahanan udara berbasis darat yang sangat tangguh.
F-16CJ merupakan pesawat tempur generasi keempat yang ringan dan jauh lebih canggih daripada pesawat generasi ketiga F-4E milik Iran. Namun, menurut laporan yang belum terverifikasi, ketika kedua jet tempur itu bertemu di langit Arab Saudi, kerusakan yang diderita F-4 sangat minim atau bahkan tidak ada, yang mengindikasikan bahwa F-16 tidak berhasil melakukan pencegatan secara efektif.
Kemampuan Angkatan Udara Iran untuk menggunakan pesawat era Perang Vietnam dalam serangan penetrasi memberikan tamparan bagi kredibilitas pertahanan udara AS. Hal ini juga memicu pertanyaan mengenai efektivitas sistem tersebut saat menghadapi musuh seperti China yang memiliki pesawat tempur generasi keempat dan kelima mutakhir yang jauh lebih sulit untuk dicegat.
Secara teknis, F-16CJ memiliki berbagai keunggulan dibandingkan F-4, meliputi jangkauan radar yang lebih jauh, kemampuan peperangan elektronik yang superior, serta integrasi rudal udara-ke-udara AIM-120 dan AIM-9 varian terbaru. Di sisi lain, F-4 merupakan jenis pesawat tempur yang jauh lebih cepat dan dapat beroperasi di ketinggian yang lebih tinggi, meskipun kemungkinan besar ia menembus wilayah udara Saudi pada ketinggian rendah untuk menyamarkan keberadaannya.
(Rahman Asmardika)