JAKARTA – Pangkat Sarwo Edhie Wibowo pernah diturunkan oleh Ahmad Yani, dari Kapten menjadi Letnan Satu (Lettu). Hal ini membuat hubungan keduanya tidak harmonis.
Melansir buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Minggu (10/5/2026), Ahmad Yani mengajak Sarwo bergabung dalam Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Batalion itu dikomandani oleh Yani sedangkan Sarwo bertugas membawa mortir.
Kemudian, saat Yani membentuk Batalion baru, Sarwo yang malang melintang di Korps Baret Merah Kopassus ini diangkat menjadi komandan kompi Batalion V Brigade IX Divisi Diponegoro sampai 1951.
Selain itu, sebelum bertemu Yani, Sarwo pernah mendaftar menjadi heiho (pembantu tentara). Tugas Sarwo hanya memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang.
Seusai pangkatnya diturunkan, Sarwo patah arang sampai menangis. Dia pulang ke Purworejo dan memberitahu ibunya. "Saya berhenti dari tentara," kata Sarwo kepada ibunya.
Surtini, ibu Sarwo menanggapi dingin. "Kalau kamu jadi tentara hanya mengejar pangkat, silakan keluar," ucapnya.
Yani mendengar cerita itu. Dengan menggunakan bahasa Belanda, Yani menitipkan pesan untuk Sarwo bahwa dia tidak akan melupakannya.
"Saya memang pernah menyakitkan hati dia. Tapi saya tidak akan pernah melupakan dia," tutup Yani.
Sarwo Edhie Wibowo pun berhasil mendapatkan pangkat jenderal TNI. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Jenderal Kopassus ini pada 10 November 2025.
(Fahmi Firdaus )