JAKARTA - BMKG mengungkapkan Indonesia bersama empat negara lain, yakni Thailand, India, Myanmar, dan Malaysia, tengah memantau badai Monsun di Teluk Benggala. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap cuaca di wilayah Indonesia?
“BMKG saat ini memang memantau dinamika Monsun di kawasan Asia, termasuk sistem tekanan rendah di Teluk Benggala. Dampaknya paling nyata berpotensi dirasakan di wilayah barat dan utara Aceh berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi,” ungkap Sekretaris Utama BMKG Guswanto, kepada Okezone, Minggu (17/5/2026).
Selain Indonesia, kata Guswanto, Thailand, India, Myanmar, dan Malaysia juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait sistem tekanan rendah yang berkembang menjadi badai Monsun di Teluk Benggala.
Ia membeberkan dampak utama dari keberadaan Monsun di Teluk Benggala adalah curah hujan ekstrem, angin kencang 25–45 km/jam, gelombang laut 2,5 hingga 4 meter, serta potensi banjir bandang dan longsor.
“Wilayah terdampak langsung Kepulauan Andaman dan Nicobar, selatan Myanmar, Thailand bagian selatan–tengah, dan pesisir barat Aceh,” ujarnya.
Guswanto mengungkapkan, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya lebih dipengaruhi oleh Monsun Australia dan fenomena atmosfer tropis.
“Saat ini, Monsun Australia menguat, membawa massa udara kering sehingga beberapa wilayah mulai memasuki peralihan ke musim kemarau. Namun, fenomena tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Rossby masih aktif dan dapat memicu hujan lokal,” jelas Guswanto.