Menurut Andi, sang nenek selama ini bekerja keras untuk menghidupi A dan G karena ibu kandung A disebut tidak pernah memberikan nafkah.
“Jadi sang nenek yang mencari nafkah sehari-hari dengan bekerja serabutan karena faktor ekonomi,” katanya.
Andi menambahkan, kondisi sang nenek saat kejadian sangat syok setelah melihat A dan G bersimbah darah di dalam kontrakan. Secara refleks, ia mengambil pisau yang berada di tangan G.
“Sang nenek kaget dan syok. Dengan refleks, dia mengambil pisau yang ada di tangan G, lalu sempat mencuci pisau tersebut,” ucapnya.
Polisi sempat mencurigai sang nenek sebagai pelaku karena tindakan mencuci pisau tersebut. Namun, setelah dilakukan pendalaman, polisi memastikan nenek korban bukan pelaku pembunuhan.
“Awalnya kami curiga karena pisaunya dicuci. Tapi setelah interogasi dan pendalaman, tindakan itu murni respons spontan karena syok melihat pisau berada di tangan anaknya,” jelas Andi.
Saat ini, polisi mengarahkan penyelidikan kepada G sebagai terduga pelaku meninggalnya A. Sebab, G diketahui mengalami gangguan jiwa dan rutin mengonsumsi obat.
“Memang ada konsumsi obat rutin dari G. Namun, diketahui sudah dua hari terakhir dia tidak mengonsumsi obat tersebut,” pungkasnya.
(Awaludin)