Menurutnya, pihak sekolah membagi para orang tua ke dalam tiga kelompok, yakni keluarga siswa yang ditangkap, keluarga korban meninggal, dan keluarga yang belum mengetahui keberadaan anak mereka.
“Saya memberikan nama keponakan saya kepada mereka, dan sekarang saya menunggu informasi lebih lanjut tentangnya,” ujarnya.
Sementara itu, Samuel Githua mengaku masih mencari keberadaan saudara perempuannya.
“Saya tidak tahu di mana saudara perempuan saya berada. Kami diberi tahu bahwa beberapa anak berada di rumah sakit, sebagian di kamar mayat. Ibu kami meninggal ketika kami masih kecil, jadi saya merawatnya seperti ayah dan ibu,” katanya.
Selain menewaskan 16 siswi, kebakaran itu juga menyebabkan 79 siswa lainnya mengalami luka-luka, sebagian akibat melompat dari lantai pertama asrama.
Sebanyak tujuh korban luka dipindahkan ke Nairobi untuk mendapatkan perawatan medis khusus, sedangkan korban lainnya telah menjalani perawatan dan dipulangkan.