JAKARTA - Di tengah kebakaran hebat yang menghanguskan ratusan rumah di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat, sebuah rumah milik keluarga Sri Asih tetap berdiri utuh. Padahal, bangunan di sekelilingnya mengalami kerusakan parah akibat kobaran api yang melanda kawasan itu, Senin 1 Juni 2026 malam.
Sri Asih menempati rumah tersebut bersama suaminya, Tursin, serta kedua anaknya, Valent Febriatno dan Calista Yumna. Rumah itu menjadi perhatian warga karena nyaris tak menunjukkan bekas terjangan api.
"Aku sih berpikir pasrah saja, Insyaallah rumah enggak kena. Gitu aja dalam pikiranku," ujar Sri Asih saat menceritakan kejadian malam itu, Selasa (2/6/2026).
Menurut Asih, saat kebakaran terjadi ia hanya berupaya menyelamatkan dokumen-dokumen penting keluarga. Selebihnya, ia memilih pasrah melihat api yang terus membesar dan mendekati rumahnya.
Asih tak menampik adanya anggapan tersebut. Namun, ia memilih menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan.
"Mungkin kuasa Allah saja," lanjut dia.
Valent sendiri malam itu baru saja menyelesaikan tahlilan bersama sejumlah warga yang digelar tak jauh dari rumahnya. Usai acara, ia mendengar teriakan kebakaran dan melihat kobaran api mulai membesar.
Ia mengaku sempat melihat api pertama kali dari lokasi tahlilan. Kobaran yang terus membesar membuatnya berlari menuju rumah untuk menyelamatkan keluarga dan barang-barang penting.
"Awalnya udah pasrah, ya sudah lah amanin dokumen sama nyawa," terang Valent.
Meski sempat bolak-balik ke rumah untuk mengamankan barang, Valent mengaku tak memiliki harapan besar rumahnya akan selamat. Apalagi, kobaran api telah menghanguskan bangunan yang berdiri tepat di sebelah rumahnya.
Namun hingga api berhasil dipadamkan, rumah tersebut tetap berdiri utuh. Dinding bangunan masih terlihat baik meski hanya berjarak sekitar satu meter dari rumah yang hangus terbakar. Bahkan, noda hitam yang lazim ditemukan pada bangunan terdampak kebakaran tidak terlihat di rumah tersebut.
"Selangkah pun ini udah selangkah doang ini kan. Maksudnya ini lihat aja kalau dilihat dari sampingnya aja udah parah banget, ya kan, udah hancur, ya kan. Nah, ini kalau misalkan dipikir secara logika juga kayaknya susah," pungkasnya.
(Awaludin)