Dari parameter variasi kecepatan seismik (dv/v), Badan Geologi mencatat nilai yang berfluktuasi di sekitar nol sejak pertengahan Februari 2026. Kondisi tersebut menunjukkan sistem vulkanik sedang berada dalam fase relaksasi dan belum mengalami peningkatan tekanan (pressurization), meski tetap rentan terhadap perubahan aktivitas.
Sementara itu, hasil pemantauan deformasi menunjukkan kondisi tubuh gunung relatif stabil. Tidak terdeteksi adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh gunung, sementara pelepasan tekanan berlangsung secara konsisten bersamaan dengan keluarnya material vulkanik saat erupsi maupun hembusan.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, Badan Geologi mempertahankan status Gunung Semeru pada Level III (Siaga).
Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari Kawah Jonggring Seloko. Selain itu, masyarakat dilarang memasuki sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak, yang berpotensi meluas hingga 17 kilometer mengikuti aliran Besuk Kobokan.
Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan banjir lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai yang bermuara ke Besuk Kobokan.
(Awaludin)