Kesepakatan tersebut awalnya dirancang untuk memungkinkan Arab Saudi memperkaya uranium dan memproses ulang limbah nuklir, di mana keduanya merupakan jalur potensial menuju pengembangan senjata nuklir. Sebagai perbandingan, UEA setuju untuk melepaskan kedua hak tersebut ketika menandatangani kesepakatan serupa dengan AS pada tahun 2009.
Hingga saat ini belum jelas apa yang dimaksud Trump dalam unggahan media sosialnya ketika ia menyatakan tidak akan ada pengayaan nuklir berdasarkan perjanjian tersebut—apakah merujuk secara spesifik pada uranium tingkat tinggi untuk senjata (weapons-grade) atau pengayaan secara umum. Uranium tingkat senjata diperkaya hingga sekitar 90%, sementara bahan bakar untuk reaktor nuklir sipil diperkaya hingga sekitar 6%.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB menyatakan pihak mereka masih menunggu permintaan resmi dari Washington dan Riyadh untuk menerapkan langkah-langkah verifikasi berdasarkan perjanjian tersebut sebelum meminta otorisasi dari Dewan Gubernur.
(Rahman Asmardika)