Dilansir RT. Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, mengatakan kepada NYT bahwa Trump "lebih menyukai solusi diplomatik" tetapi tetap mempertimbangkan "semua opsi" jika Teheran terus melakukan "aktivitas teroris" di Selat Hormuz atau terhadap sekutu AS.
Analisis pada April oleh Center for Strategic and International Studies memperkirakan bahwa kampanye awal tersebut menghabiskan setidaknya 45% dari rudal serang presisi Amerika, hampir setengah dari rudal pencegat Patriot, lebih dari setengah dari rudal THAAD, dan sekitar 30% dari rudal jelajah Tomahawk.
Awal pekan ini, NYT dan The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa rudal Iran semakin efektif dalam menembus pertahanan AS karena kecepatan dan kemampuan manuvernya, serta taktik Iran yang terus berkembang.
Jumat lalu, tiga tentara AS tewas di Yordania ketika sebuah rudal balistik menembus pertahanan udara AS. Seorang tentara keempat tewas di Irak saat amunisi dari korvet drone Iran yang jatuh sedang dihancurkan.
IRGC juga mengklaim bahwa serangan Iran melumpuhkan radar, komunikasi, dan sistem pertahanan udara AS di Kuwait, termasuk baterai Patriot, dan merusak beberapa drone MQ-9. Baik Washington maupun Kuwait belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Tidak ada serangan AS yang dilaporkan semalam hingga Sabtu, menandai jeda pertama setelah 13 malam berturut-turut terjadi serangan.
(Rahman Asmardika)