JAKARTA - Badan intelijen Israel, Mossad, dikabarkan memecat dua pejabat senior setelah rencana untuk menggulingkan pemerintahan Iran dilaporkan gagal atau tidak pernah mencapai tahap pelaksanaan.
Laporan tersebut pertama kali diungkap stasiun televisi Israel, Channel 12, yang menyebut Kepala Mossad Roman Gofman memberhentikan Kepala Direktorat Intelijen serta Kepala Divisi Iran. Identitas kedua pejabat itu tidak diungkap ke publik.
Menurut Channel 12, dilansir dari trtworld, Jumat (7/8/2026). Rencana tersebut disusun bersama Amerika Serikat dengan tujuan memicu gerakan internal untuk melawan pemerintah Iran. Strategi yang disiapkan antara lain mencakup dukungan terhadap kelompok oposisi di tengah operasi militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Sejumlah sumber keamanan yang dikutip Channel 12 juga menyebut hubungan Roman Gofman dengan kedua pejabat tersebut telah lama tidak harmonis. Pemecatan itu disebut menjadi bagian dari perombakan besar di tubuh Mossad, terutama dalam penanganan isu Iran.
Laporan tersebut juga mengutip berbagai sumber internasional yang menyebut rencana itu mencakup skenario pergantian kepemimpinan Iran melalui koordinasi dengan pejabat Amerika Serikat untuk menyiapkan fase "pasca-rezim".
Bahkan, menurut laporan itu, terdapat skenario operasi gabungan Mossad dan CIA yang melibatkan kelompok militan Kurdi untuk memasuki wilayah Iran dengan dukungan udara Israel dan Amerika Serikat guna mendukung terbentuknya pemerintahan alternatif.
Meski demikian, rencana tersebut disebut berhenti pada tahap awal sehingga tidak pernah dijalankan. Channel 12 menyebut para pejabat yang bertanggung jawab kemudian dimintai pertanggungjawaban atas kegagalan tersebut.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel maupun Mossad terkait laporan pemecatan tersebut.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 13 Maret mengakui bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Iran bukan perkara mudah.
Ia mengatakan belum ada kepastian bahwa tujuan tersebut dapat tercapai.
Sementara itu, ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Serangkaian serangan militer dan aksi balasan terjadi di kawasan Timur Tengah, disusul upaya diplomasi yang sempat dibuka namun belum menghasilkan kesepakatan akhir.
(Awaludin)